SAP 8 UTS: Produksi Wacana Lingkungan oleh Women News Network (WNN) dalam Perspektif Teori Praktik Pierre Bourdieu

Produksi Wacana Lingkungan oleh Women News Network (WNN) dalam Perspektif Teori Praktik Pierre Bourdieu

Purnama Ayu Rizky

Pendahuluan

Perempuan sering kali menjadi kelompok rentan dalam konteks isu lingkungan. Ketimpangan sosial, akses terbatas terhadap sumber daya, serta peran tradisional dalam pengelolaan rumah tangga dan komunitas menjadikan perempuan sebagai pihak yang terdampak. Sementara suara mereka jarang terdengar dalam produksi wacana publik (Agarwal, 1992; Pearse & Stiefel, 1993). Oleh karena itu, penelitian ini menganggap media yang menyoroti pengalaman perempuan dan memberi mereka agensi dalam membangun narasi kritis mengenai lingkungan menjadi sangat penting.

Women News Network (WNN), resmi berdiri pada 21 April 2025, adalah jaringan media perempuan di Indonesia yang terdiri dari Magdalene, Kutub, Katong NTT, Femini, Simbur Perempuan, Tentang Puan, Bincang Perempuan, Digital Mama, dan Dewiku. WNN menekankan agensi perempuan dalam membangun wacana lingkungan kritis, berbeda dengan media arus utama yang kerap menempatkan perempuan sebagai subjek pasif. WNN mengusung pendekatan jurnalisme konstruktif (Magdalene, 2023, yang menekankan solusi, keterlibatan publik, dan pemikiran kritis termasuk dalam isu lingkungan. Pendekatan ini memungkinkan media membentuk narasi yang lebih emansipatoris dan solutif dibandingkan praktik jurnalistik tradisional.

Praktik jurnalistik WNN menyoroti ketidakadilan lingkungan yang berdampak pada perempuan, seperti hilangnya akses terhadap air bersih, tanah, dan sumber daya lokal akibat proyek pertambangan dan perkebunan skala besar. Jurnalisme digital ini menciptakan ruang alternatif untuk menyuarakan pengalaman perempuan dan membangun narasi ekofeminis yang menantang dominasi simbolik media mainstream (Haraway, 1988; Mies & Shiva, 1993).

Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik produksi wacana lingkungan oleh WNN melalui perspektif Teori Praktik Pierre Bourdieu. Fokusnya adalah bagaimana habitus kolektif, field produksi media digital, dan symbolic capital bekerja dalam membangun narasi perempuan tentang lingkungan. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: Bagaimana WNN memproduksi wacana lingkungan yang menyoroti ketidakadilan terhadap perempuan melalui praktik jurnalisme digital menurut perspektif teori praktik Bourdieu?

Tinjauan Literatur

Teori praktik Pierre Bourdieu menekankan hubungan kompleks antara struktur sosial, Teori praktik Pierre Bourdieu menekankan hubungan kompleks antara struktur sosial, habitus, dan capital dalam suatu field (Bourdieu, 1977, 1990, 1993). Habitus adalah disposisi kolektif yang terbentuk dari pengalaman, nilai, dan kesadaran sosial anggota kelompok, yang memandu praktik mereka secara rutin tanpa harus disadari sepenuhnya. Konsep ini membantu menjelaskan bagaimana individu atau kelompok bertindak secara konsisten dalam konteks sosial tertentu, sekaligus memproduksi dan mereproduksi struktur sosial. Dalam konteks WNN, habitus kolektif perempuan terbentuk dari pengalaman mereka menghadapi ketidakadilan lingkungan, peran sosial tradisional, dan akses terbatas terhadap sumber daya. Habitus ini membimbing praktik jurnalistik yang menekankan perempuan sebagai agen perubahan, bukan subjek pasif.

Field adalah arena sosial tempat aktor bersaing dan bernegosiasi untuk memperoleh modal, termasuk symbolic capital, yang mencerminkan pengakuan, legitimasi, dan reputasi dalam konteks tertentu (Swartz, 1997; Fuchs, 2017). Dalam media digital, field mencakup berbagai aktor: media mainstream, media alternatif, organisasi perempuan, dan audiens daring. WNN beroperasi dalam field ini dengan membangun narasi perempuan mengenai isu lingkungan, yang menantang dominasi simbolik media mainstream. Field memungkinkan analisis bagaimana media perempuan berkompetisi untuk mendapatkan legitimasi dan pengakuan, serta bagaimana struktur sosial dan modal simbolik saling memengaruhi.

Symbolic capital adalah bentuk modal yang terkait dengan pengakuan sosial, prestise, dan legitimasi ide atau praktik (Bourdieu, 1993). Dalam konteks WNN, pengalaman perempuan, artikel jurnalistik, dan konten digital yang dihasilkan menjadi symbolic capital karena mengangkat perspektif yang sebelumnya terpinggirkan. Pengakuan dari audiens, komunitas perempuan, dan lembaga media alternatif memperkuat posisi WNN dalam field media digital, sekaligus menantang narasi yang didominasi media mainstream. Dengan demikian, symbolic capital bukan hanya sumber legitimasi, tetapi juga alat untuk mengubah praktik sosial dan wacana publik.

Relevansi teori praktik Bourdieu terhadap penelitian ini sangat signifikan. Pertama, teori ini membantu menjelaskan bagaimana pengalaman perempuan membentuk praktik produksi wacana di WNN. Habitus kolektif yang berbasis pengalaman ekologis dan sosial memandu strategi editorial, pemilihan isu, dan cara penyajian konten. Kedua, konsep field memungkinkan analisis persaingan narasi antara media perempuan dan media mainstream, sekaligus menyoroti posisi perempuan dalam struktur sosial yang lebih luas. Ketiga, symbolic capital menyoroti bagaimana narasi perempuan mendapatkan pengakuan, menciptakan legitimasi, dan menantang dominasi simbolik media mainstream.

Selain itu, integrasi dengan ekofeminisme menambah dimensi kritis pada analisis Bourdieu. Ekofeminisme menekankan hubungan antara gender, kekuasaan, dan lingkungan (Mies & Shiva, 1993; Haraway, 1988). Dalam konteks WNN, praktik produksi wacana dipandu habitus kolektif yang ekofeminis, menjadikan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan dan symbolic capital. Perspektif ini memperluas teori Bourdieu dengan memasukkan isu ekologis dan keadilan gender, sehingga praktik media perempuan dapat dianalisis sebagai bentuk transformasi sosial.

WNN juga menerapkan pendekatan jurnalisme konstruktif sebagai strategi jurnalistik yang menekankan penceritaan berbasis solusi, pelibatan, dan pemikiran kritis terhadap isu lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka Bourdieu karena membentuk field media alternatif di mana habitus kolektif perempuan dikonkretkan melalui praktik digital, dan symbolic capital diperoleh melalui legitimasi narasi yang dihasilkan. Dengan demikian, teori praktik Bourdieu memungkinkan peneliti memahami interaksi antara struktur sosial, praktik media, dan legitimasi narasi perempuan, sekaligus menjelaskan bagaimana media perempuan dapat memproduksi wacana lingkungan yang kritis dan emansipatoris.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Populasi penelitian adalah komunitas praktik WNN, yang meliputi penulis, kontributor, dan editor dari Magdalene, Kutub, Katong NTT, Femini, Simbur Perempuan, Tentang Puan, Bincang Perempuan, Digital Mama, dan Dewiku. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur untuk menggali aktivitas terorganisasi, tujuan tindakan, aturan produksi wacana, elemen material yang digunakan, serta pemahaman anggota mengenai isu lingkungan dan pengalaman perempuan (Ahva, 2017). Observasi partisipatif dilakukan di ruang diskusi daring dan offline untuk memahami interaksi anggota dan praktik produksi wacana, termasuk elemen material dan teknis yang digunakan. Dokumentasi berupa pengumpulan artikel daring anggota WNN selama periode 2021–2025 dilakukan dengan fokus pada isu lingkungan dan perspektif perempuan.

Analisis data menggunakan analisis wacana sosiokognitif (Fairclough, 2013; Wijsen, 2013), yang meliputi tiga tahap: analisis praktik linguistik untuk menelusuri properti formal teks, analisis praktik diskursif untuk memahami produksi, distribusi, dan konsumsi teks, dan analisis wacana sebagai praktik sosial untuk mengevaluasi dampak sosial, identitas, dan sistem pengetahuan yang dibangun melalui teks. Pendekatan ini selaras dengan teori praktik Bourdieu karena menekankan hubungan antara habitus, field, dan symbolic capital dalam praktik produksi wacana.

Melalui metodologi ini, penelitian bertujuan memahami bagaimana WNN membangun narasi perempuan mengenai isu lingkungan, menantang dominasi simbolik media mainstream, dan menghasilkan symbolic capital melalui praktik jurnalistik berbasis kesadaran ekologis, pengalaman perempuan, dan prinsip jurnalisme konstruktif.

Penafian: Penulis menggunakan Grok dan NotebookLM untuk mengekstrak bacaan dan mendiskusikan isi tulisan.

Daftar Pustaka

Ahva, L. (2017). Journalism as practice: A critical approach to journalism as practice. Routledge.

Agarwal, B. (1992). The gender and environment debate: Lessons from India. Feminist Studies, 18(1), 119–158.

Bourdieu, P. (1977). Outline of a theory of practice. Cambridge University Press.

Bourdieu, P. (1990). The logic of practice. Stanford University Press.

Bourdieu, P. (1993). The field of cultural production: Essays on art and literature. Columbia University Press.

Fairclough, N. (2013). Critical discourse analysis: The critical study of language (2nd ed.). Routledge.

Fuchs, C. (2017). Social media: A critical introduction. Sage Publications.

Haraway, D. (1988). Situated knowledges: The science question in feminism and the privilege of partial perspective. Feminist Studies, 14(3), 575–599.

Mies, M., & Shiva, V. (1993). Ecofeminism. Zed Books.

Pearse, A., & Stiefel, M. (1993). Women and the environment: A global perspective. Routledge.

Swartz, D. (1997). Culture & power: The sociology of Pierre Bourdieu. University of Chicago Press.

Wijsen, F. (2013). Cognitive discourse analysis in media research. Amsterdam University Press



Komentar