Formasi Subkultural WNN: Resistensi Simbolik Perempuan dalam Jurnalisme Lingkungan
Lokus penelitian ini adalah Women News Network (WNN), sebuah aliansi media berbasis perempuan yang didirikan pada 21 April 2025. Penelitian ini berfokus untuk memahami bagaimana WNN memproduksi wacana kontra-hegemoni yang menonjolkan agensi perempuan dalam isu lingkungan. Dalam konteks ini, WNN mempraktikkan pendekatan jurnalisme konstruktif—sebuah paradigma liputan yang tidak berhenti pada eksposur masalah, melainkan menekankan pencarian solusi dan pemberdayaan sosial. Pendekatan ini mulai mendapat perhatian global sejak pertengahan 2010-an dan kini diadaptasi oleh beberapa media independen di Indonesia, termasuk WNN. Dalam berita lingkungan, jurnalisme konstruktif penting karena menggeser posisi perempuan dari sekadar korban perubahan iklim menjadi subjek aktif dalam mitigasi dan adaptasi ekologis (Magdalene, 2025).
Berpijak pada teori subkultur Dick Hebdige (1979), penelitian ini membaca WNN sebagai entitas subkultural yang melakukan perlawanan simbolik melalui style—yaitu apropriasi kreatif atas tanda-tanda budaya dominan. Hebdige menjelaskan bahwa kelompok bawahan mengekspresikan resistensi melalui bricolage: mengambil elemen arus utama dan merekontekstualisasikannya untuk menandai identitas tandingan. Dalam Subculture: The Meaning of Style, ia mencontohkan bagaimana punk dan glam rock mengguncang batas gender dan kelas melalui gaya visual ekstrem—seperti David Bowie yang menantang norma maskulinitas dengan androgini. Praktik ini bukan penghancuran sistem, melainkan pengacauan makna dari dalam (Hebdige, 1979).
Pendekatan ini relevan bagi WNN karena organisasi ini tidak menolak platform digital kapitalistik, melainkan memanfaatkannya sebagai medium resistensi. WNN melakukan apropriasi simbolik terhadap narasi “korban bencana” atau “perempuan rentan”—mengubahnya menjadi simbol kekuatan kolektif dan solidaritas komunitas. Misalnya, liputan tentang perempuan nelayan di pesisir yang mengelola mangrove tidak lagi menekankan kerentanan, tetapi strategi adaptasi berbasis pengetahuan lokal. Gaya pemberitaan WNN—dengan bahasa empatik, visual naratif, dan fokus solusi—menjadi style subkultural yang mengacaukan logika klikbait dan sensasi (Hebdige, 1979). Praktik ini sejalan dengan konsep Hebdige tentang resistance through rituals: perlawanan berlangsung dalam rutinitas redaksi sehari-hari, bukan deklarasi politik.
Sementara itu, teori representasi Stuart Hall (1997) dan decoding David Morley (1980) kurang memadai karena terlalu menekankan produksi dan konsumsi makna hegemonik. Hall melihat wacana sebagai alat kekuasaan, Morley pada tafsir audiens—keduanya memposisikan subjek sebagai penerima pasif, bukan produsen kreatif resistensi. Dalam kasus WNN, yang krusial bukan bagaimana audiens menafsirkan berita, melainkan bagaimana institusi ini memproduksi gaya tandingan melalui pilihan bahasa, framing, dan estetika visual. Hebdige lebih tepat karena membuka ruang analisis perlawanan dari dalam sistem—melalui bricolage simbolik yang halus namun mengganggu (Hebdige, 1979).
Dengan demikian, penelitian ini memandang praktik jurnalisme lingkungan WNN sebagai formasi subkultural yang menegosiasikan relasi kuasa patriarkal dan kapitalisme digital. WNN tidak keluar dari sistem, tetapi mengacaukannya dari dalam melalui rekontekstualisasi tanda—mengubah “korban” menjadi “pelaku”, “bencana” menjadi “solusi kolektif”. Analisis ini menunjukkan bahwa perlawanan berlangsung dalam bentuk estetis dan naratif, bukan konfrontasi langsung.
Disclaimer: Tulisan ini dibantu oleh NotebookLM dan Grok untuk merangkum literatur, merumuskan ide, menyusun draf awal, serta melakukan parafrase dan penyuntingan kalimat.
Penulis merangkum tabel daftar bacaan di tautan berikut.
Daftar Pustaka:
Hebdige, D. (1979). Subculture: The Meaning of Style. London: Methuen & Co. Ltd.
Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage.
Morley, D., & Brunsdon, C. (1999). The Nationwide Television Studies. London: Routledge.
Magdalene. (2025). Women News Network: Aliansi Media Perempuan untuk Isu Lingkungan dan Kesetaraan. Diakses dari https://magdalene.co/story/women-news-network/
UNICEF Indonesia. (2024). Perempuan dan Anak dalam Krisis Iklim: Peran Jurnalisme dalam Pemberdayaan. Jakarta: UNICEF.
Komentar
Posting Komentar