SAP 5: Praktik Ekofeminisme dalam Jurnalisme Digital: Analisis Habitus dan Modal Simbolik Menggunakan Teori Pierre Bourdieu pada Women News Network (WNN)
Penelitian ini meneliti bagaimana Women News Network (WNN), koalisi media perempuan yang didirikan pada April 2025, memanfaatkan habitus kolektif dan modal simbolik untuk mengartikulasikan perspektif ekofeminisme dalam praktik jurnalisme digital. Ekofeminisme, sebagaimana dirujuk oleh Shiva (1989), mengaitkan penindasan perempuan dengan degradasi lingkungan, sekaligus menekankan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis. Dengan menggunakan teori Pierre Bourdieu, penelitian ini menganalisis bagaimana disposisi kolektif jurnalis WNN dan legitimasi simbolik yang mereka bangun memperkuat narasi gender dan lingkungan di ranah digital, membedakannya dari media konvensional.
WNN terdiri dari sembilan media independen, yaitu Magdalene, Digital Mama, Katong NTT, Bincang Perempuan, Simbur Cahaya, Tentang Puan, Dewiku, Kutub, dan Femini, yang secara konsisten mengangkat isu-isu lingkungan yang berdampak pada perempuan. Narasi mereka menonjolkan hubungan antara perempuan, pengetahuan lokal, dan kelestarian alam melalui platform digital, menandai fokus pada misi sosial yang berbeda dari dinamika kompetitif media konglomerat. Mayoritas pendiri WNN adalah mantan jurnalis media arus utama yang memilih keluar karena keterbatasan ruang untuk mengangkat isu gender dan lingkungan. Mereka kemudian membentuk media independen dengan tujuan utama menyuarakan perspektif perempuan. Komitmen ini mencerminkan pergeseran dari praktik jurnalisme konvensional menuju wacana alternatif yang berfokus pada isu sosial.
Dalam menganalisis praktik WNN, penelitian ini menggunakan teori habitus dan modal simbolik Pierre Bourdieu (1977, 1984, 1990). Bourdieu (1977) mendefinisikan habitus sebagai disposisi kolektif yang dibentuk oleh posisi sosial; pada WNN, hal ini terlihat dalam narasi ekofeminisme yang berakar dari pengalaman diskriminasi jurnalis perempuan di media sebelumnya. Pengalaman ini mendorong mereka memprioritaskan suara yang terpinggirkan dalam laporan mereka.
Bourdieu (1984) juga mengkonseptualisasikan modal simbolik sebagai pengakuan yang memberikan legitimasi. Dalam konteks ini, WNN memanfaatkan modal simbolik melalui reputasi profesional pendirinya, yang memperkuat kepercayaan publik terhadap media ini. Kolaborasi antar-media anggota juga meningkatkan visibilitas narasi ekofeminisme di ranah digital, sehingga memperluas jangkauan pesan mereka.
Teori konsumsi Alan Warde (2005), khususnya theories of practice, kurang sesuai untuk menganalisis WNN. Sebab, Warde fokus pada praktik sehari-hari seperti konsumsi makanan atau belanja yang membentuk identitas individu, tanpa mempertimbangkan dinamika kekuasaan atau posisi sosial dalam struktur media. Pendekatan ini gagal menangkap perjuangan WNN melawan dominasi patriarkal dan kapitalis, yang justru membutuhkan analisis struktural seperti yang ditawarkan Bourdieu. Dengan demikian, teori Bourdieu lebih tepat untuk menjelaskan bagaimana WNN membangun praktik jurnalisme alternatif.
Berdasarkan hal tersebut, pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: Bagaimana Women News Network (WNN) sebagai koalisi media perempuan di Indonesia memanfaatkan habitus kolektif dan modal simbolik untuk mengartikulasikan perspektif ekofeminisme dalam praktik jurnalisme digital?
Catatan: Penulis memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) NotebookLM Google dan Grok untuk mengekstraksi gagasan utama dari bahan bacaan dan mendiskusikan ide-ide tulisan.
Komentar
Posting Komentar