SAP 4: Praktik Ekofeminisme dalam Jurnalisme Digital: Analisis Legitimasi dan Narasi Media dengan Teori Ritual Media Nick Couldry

Penelitian ini hendak meneliti bagaimana jejaring media perempuan Women News Network (WNN), yang berdiri pada April 2025, mewujudkan praktik ekofeminisme melalui strategi naratif dan pembangunan legitimasi media. Jejaring ini menghimpun sembilan media anggota dengan audiens dan orientasi yang berbeda, termasuk Magdalene, Simbur Cahaya, Femini, Digital Mama, Tentang Puan, Katong NTT, Dewiku, dan Kutub. Ekofeminisme menekankan keterkaitan antara penindasan perempuan dan kerusakan lingkungan serta pentingnya kesetaraan dan keberlanjutan (Shiva, 1989). Dalam konteks ini, praktik jurnalistik WNN dipahami sebagai strategi kolektif yang mengorganisasi narasi, membangun legitimasi, dan memperkuat pengaruh media alternatif dalam memposisikan isu ekofeminisme secara konsisten di ruang publik digital.

Dengan merujuk pada teori ritual media Nick Couldry (2003, 2006), praktik ekofeminisme di WNN dipahami sebagai bentuk ritual media yang menegosiasikan klaim tentang tatanan sosial dan membangun legitimasi naratif. Merujuk pemikiran Couldry, media tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menciptakan kerangka yang menaturalisasi perspektif tertentu melalui praktik keseharian dan pengulangan bentuk-bentuk ritual. Pendekatan ini memungkinkan analisis bagaimana WNN mengkonstruksi pengaruh dan kredibilitas melalui narasi kolektif, serta bagaimana isu ekofeminisme dikodifikasi dan dipertahankan sebagai perspektif sah di media digital (Couldry, 2003).

Praktik jurnalisme ekofeminisme di WNN menghubungkan isu ekologis dengan perjuangan feminis. Narasi tentang perempuan adat yang kehilangan akses hutan atau perempuan pesisir yang menghadapi abrasi tidak sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk kategori pemikiran yang mengaitkan tubuh perempuan, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan ekologis. Melalui kerangka ritual media, proses ini dipahami sebagai praktik yang menaturalisasi klaim ekofeminis dan membangun legitimasi naratif dalam ruang publik digital, sekaligus memperlihatkan bagaimana media alternatif menggunakan praktik keseharian untuk menegosiasikan otoritas dan pengaruh (Couldry, 2003).

WNN beroperasi dalam ekosistem digital yang dikuasai platform global, di mana algoritme dan logika viralitas sering mengedepankan konten sensasional dibanding liputan mendalam. Analisis Couldry (2006) tentang "spektakel" menjelaskan bagaimana media arus utama mempertahankan dominasi, sehingga praktik WNN dapat dipahami sebagai upaya ritual untuk membangun legitimasi alternatif. Dengan mengatur narasi dan pengemasan konten secara kolektif, jejaring ini menciptakan bentuk-bentuk media yang memperkuat pengaruh dan keterlibatan audiens, sekaligus mempertahankan narasi ekofeminisme sebagai perspektif yang sah dan berdaya.

Meskipun teori ekonomi politik media Hesmondhalgh (2008) relevan untuk memahami kendala struktural, kepemilikan media, dan tekanan kapitalisme digital, penelitian ini menekankan bagaimana WNN--yang didominasi jurnalis perempuan yang keluar dari media arus utama--menegosiasikan pengaruh dan legitimasi melalui praktik naratif. Kerangka ritual media Couldry menyediakan lensa yang lebih tajam untuk memahami dimensi simbolik dan diskursif dari praktik jurnalistik WNN, termasuk bagaimana jejaring ini merespons dominasi media arus utama dan membangun makna ekofeminisme melalui interaksi sehari-hari dengan audiens digital. Pendekatan ini menyoroti peran media alternatif dalam memproduksi dan mempertahankan narasi kritis, tanpa bergantung pada struktur ekonomi atau modal institusional.

Penelitian ini hendak mempertanyakan bagaimana WNN menegosiasikan isu gender dan lingkungan bukan sekadar sebagai reproduksi struktur yang ada, melainkan sebagai strategi kolektif berbasis legitimasi naratif dan praktik ritual media. Praktik keseharian jurnalistik dan strategi naratif yang konsisten memperlihatkan bagaimana jejaring media alternatif dapat membentuk persepsi publik, menantang dominasi media arus utama, dan menanamkan perspektif ekofeminisme dalam wacana digital. Dengan demikian, teori ritual media Couldry menjadi alat efektif untuk menganalisis bagaimana makna, legitimasi, dan pengaruh dibentuk melalui jurnalisme digital alternatif.

Catatan: Penulis memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) NotebookLM Google dan ChatGPT untuk mengekstraksi gagasan utama dari bahan bacaan.

Daftar Pustaka

Couldry, N. (2000). The Place of Media Power. London: Routledge.
Couldry, N. (2003). Media Rituals: a Critical Approach. London: Routledge.
Couldry, N. (2006). Listening beyond the Echoes: Media, Ethics and Agency in an Uncertain World. Boulder, CO: Paradigm Press.
Hesmondhalgh, D., & Toynbee, J. (Eds.). (2008). The Media and Social Theory. London: Routledge.
Shiva, V. (1989). Staying Alive: Women, Ecology and Development. London: Zed Books.

Komentar