Aldi (29), anak sulung Sapri yang sehari-hari bekerja sebagai petani, penjual madu, sekaligus pemandu wisata./ Dokumen Pribadi
Pagi belum tiba
saat Sapri (59) sibuk menjerang air di atas tungku dapurnya. Sesekali ia meniup
bara merah di ujung kayu agar api makin berkobar. Di dekatnya, sang istri
menyiapkan delapan cangkir bambu yang habis ia cuci di sungai dekat rumah.
Sapri dan istri tidak berpuasa besok. Dalam kepercayaan Baduy Dalam, warga tak diwajibkan puasa selama Ramadan, kendati mereka tetap melangsungkan
ritual puasa kawalu selama tiga bulan penuh. Kedatangan saya dan lima teman kali ini membuat Sapri tetap bangun tengah malam demi menyiapkan hidangan sahur.
Teman-teman saya
masih tertidur pulas. Entah dingin yang menusuk atau lelah yang membuat mereka
tak terusik dengan bunyi berisik di dapur. Saya mengintip jam mungil
di tangan kiri, masih jam satu dini hari. Saya kembali merapatkan jaket dan
meringkuk di atas tikar lebar yang dibentangkan Sapri untuk kami. Sial, saya
susah tidur lagi. Sekujur badan saya linu setelah berjalan kaki lima jam dari
Terminal Ciboleger di Baduy Luar menuju rumah Sapri di Cibeo, Baduy Dalam.
Lokasi kampungnya persis di kaki Gunung Halimun, bersebelahan dengan dua
kampung Baduy Dalam lain, Cikeusik dan Cikertawana. Jaraknya sekitar 38 km dari
Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta.
Untuk ke
Cibeo—satu-satunya kampung Kanekes yang boleh diinapi pengunjung—jelas tak
mudah, karena rute jalan cukup terjal, naik turun, menyeberang sejumlah
jembatan gantung, dan berlumpur pekat saat musim hujan. Rasanya sukar
membayangkan Sapri saban hari melintasi jalan tersebut dengan kaki
telanjang berkali-kali. Sekali saya naik, belasan koyo saja sudah cukup
bertengger manis memenuhi perut, kaki, tangan, dan sekitar leher. Umur dan
lemak jahat di badan memang tak pernah bohong.
Akhirnya saya memaksa
diri untuk duduk. Bingung harus melakukan apa malam itu, karena ponsel adalah
hal terlarang di Baduy Dalam. Mau baca buku pun tak bisa, lantaran rumah Sapri
hanya diisi cahaya temaram dari penerangan minyak picung (kluwek). Mau bantu
memasak, rasanya sia-sia saja, karena dapur sudah cukup riuh dengan dua orang.
Akhirnya saya hanya bengong, sampai cuping hidung mencium aroma wangi mi instan
yang selesai dimasak.
“Mau minum teh
atau kopi, Neng?” tanya istri Sapri.
“Muhun, Teh. Saya
minta teh tawar panas saja,” sahut saya setengah mengantuk.
Dengan cekatan,
istri Sapri menuangkan air panas ke atas cangkir bambu yang telah disiapkan.
Saya mengambilnya segera. Badan saya hangat. Lalu, ia mempersilakan saya untuk
mengambil hidangan sahur lebih dini, agar jam 4 pagi bisa bertolak menuju Terminal
Cijahe, 1,5 jam kira-kira dari Cibeo. Saya dan Rista, seorang kawan, memang
berencana pulang lebih dulu karena suami saya tiba dari Kalimantan. Sementara,
Rista hanya ingin cepat pulang karena tugas-tugas kuliahnya konon sudah banyak
menumpuk. Saya membangunkan ia untuk menyantap masakan Sapri dan istrinya.
Empat orang sisanya, Ecy, Atep, Hary, dan Harini juga saya bangunkan, tapi tampaknya mereka terlalu malas
untuk bangun.
Saya sering makan mi instan dengan telur dan cabe, tapi entah mengapa rasa mi ini jauh lebih nikmat disantap di Cibeo.
Saya sering makan mi instan dengan telur dan cabe, tapi entah mengapa rasa mi ini jauh lebih nikmat disantap di Cibeo.
“Aih, masih ada sisa ikan asin semalam,”
seru saya girang, seperti menemukan harta karun. Ikan asin adalah menu favorit Urang Kanekes. Saya pernah tanya ke
Sapri, kenapa mereka gandrung dengan
makanan tersebut. “Ikan asin itu enak, harganya juga murah,” jawab Sapri. Satu
kilo, imbuhnya, bisa dihemat-hemat untuk makan ia, istri, dan delapan anaknya
buat sepekan. Ikan asin ini pula yang jadi menu buka puasa kami sebelumnya di
rumah Sapri. Tentu saja ada nasi pulen, sayur asam, sambal korek cabe merah,
dan tempe goreng yang jadi pendamping. Disantap saat lapar dan letih seharian,
ayam goreng Bu Suharti saja sudah barang tentu lewat lawan masakan Sapri. Saya
beruntung, dini hari ini masih dapat sisa ikan asin semalam.
Satu piring mi dan
sedikit nasi—orang Indonesia mana bisa makan mi tanpa nasi—sudah licin tandas.
Saya dan Rista bergegas lari ke belakang untuk buang hajat. Yang dimaksud “ke
belakang” ini adalah sebuah sungai berair jernih dengan banyak batu di
sisi-sisinya. Sungai inilah yang dipakai untuk urusan buang air. Ada satu lagi,
sungai yang lebih besar dekat rumah Sapri, yang airnya tak kalah jernih. Orang
Baduy Dalam pantang menggunakan sampo, sabun, pasta gigi untuk mandi. Sebagai
gantinya, mereka memanfaatkan daun cicaang atau honje (Etlingera elatior) untuk
sabun dan sampo, pun sabut kelapa buat gosok gigi. Memakai produk buatan pabrik
dipercaya akan melanggar adat nenek moyang dan mencemari sungai. Meski begitu,
dalam sebuah video ekspedisi yang dilakukan Dandhy Dwi Laksono dan rekan-rekannya
ke Baduy, mereka menemukan sampo dan pasta gigi ukuran saset yang diselipkan di
sela-sela bambu dekat pancuran. Entah milik siapa.
Jembatan Gajeboh di Baduy Luar, yang terbuat dari tumpukan bambu yang diikat dengan tali dan terbentang di atas sungai./ Dok Pribadi
Tak hanya perkara
sampo dan pasta gigi saja yang menjadi perhatian saya. Saat berbincang
malam-malam usai makan bersama, Sapri dan anak sulungnya, Aldi kompak bercerita
Urang Kanekes anti memakai telepon genggam dan berbagai gawai,
termasuk radio atau televisi. Mereka juga tidak boleh sekolah, meski di era
Soeharto, pemerintah mati-matian membangun sekolah agar masyarakat Baduy melek
baca, tapi sekolah bikinan bos Orde Baru itu tetap sepi. Bisa membaca bukan
prioritas di sini, justru pengetahuan soal adat dan kemampuan berhitung lah
yang diajarkan secara khusus oleh para orang tua ke anaknya. Mereka tak boleh memakai
alas kaki, naik kendaraan, beristri cuma satu lewat perjodohan, tak boleh
berzina, hanya bisa menyantap hidangan yang dimakan nenek moyang mereka. Semua
tradisi itu berbuah denda adat yang tak main-main jika dilanggar oleh
masyarakat setempat. Misalnya, zina atau ketahuan memanfaatkan alat
transportasi bisa membuat orang Baduy Dalam “dipecat”. Mereka akan diasingkan
ke Baduy Luar—sesuatu yang agak memalukan buat orang di Dalam—untuk bekerja
selama 40 hari tanpa bayaran, hanya diberi makan dan minum.
Namun, apakah
tradisi itu betul-betul masih terjaga di Baduy Dalam? Iseng saya bertanya pada
Aldi (29) soal kebiasannya sehari-hari. Bapak dua anak itu sehari-hari mengolah
ladang bersama Sapri. Total tanah yang mereka punya sejumlah setengah hektar,
yang ditanami pisang, durian, dan berbagai tumbuhan lain. Namun, saat akhir
pekan, Aldi dan Sapri, kadang bersama anak keenam Sapri, Komong (11) akan turun
dan berdiam di warung-warung Terminal Ciboleger.
“Kami menunggu
turis-turis yang mau naik ke atas. Biasanya bisa lebih dari sekali mereka
datang ke sini, langsung menghubungi saya,” ujar Aldi.
“Bagaimana caranya
orang menghubungi Aldi,” tanya saya bingung.
“Iya, saya punya
hape, tapi cuma aktif tiap Jumat dan Sabtu. Saya cuma bisa menyalakan saat
sudah di Baduy Luar.”
“Apa Ayah Tahu?”
“Ya, tahu. Tidak
apa-apa kalau di luar,” ungkapnya seraya tertawa.
Ayah Sapri mengaku sudah mengitari Jakarta dengan berjalan kaki./ Dokumen Pribadi
Saya konfirmasi ke
Sapri. Ia membenarkan dengan mimik yang agak ragu. Sapri yang mukanya pernah
muncul di film “Ambu” (2019) yang dibintangi Laudya Bela ini, rupanya punya
pengalaman kontradiktif pula dengan tradisi nenek moyang mereka. Selepas musim
panen yang cuma ada setahun sekali, ia dan rekan-rekannya akan berjalan kaki
sejauh 135 kilometer sampai di Jakarta untuk berjualan madu hutan. Satu
botolnya dijual Rp100.000. Sapri dan rombongan bisa membawa madu hingga
berbotol-botol untuk memenuhi pesanan kawan di Jakarta. Saat di Ibu Kota pun,
meski tak menumpang sarana transportasi, mereka tak menolak memasuki
pusat-pusat keramaian seperti Monas, menonton film di bioskop, makan ayam di
McDonal, atau menginap di hotel Taman Anggrek jamuan teman.
“Naik Monas saya
sudah delapan kali. Mall, sudah banyak sekali yang didatangi, dari Blok M
sampai Pondok Indah. Di hotel kami menginap di kamar dan harus naik lift,” lanjut Sapri.
“Enak mana tidur
di hotel atau di rumah sendiri, Yah,” canda saya.
“Ya, hotel lah,”
timpalnya tertawa nyaring.
Dari penuturan
Sapri dan Aldi, ditambah pengalaman langsung melihat sendiri kebiasaan orang
Baduy Dalam, saya menduga, tradisi itu tak sepenuhnya dijaga kuat. Barangkali
karena pergaulan dengan orang luar atau dari televisi yang diam-diam mereka
tonton saat sedang di Ciboleger dan Jakarta. Meski kebanyakan warga masih tak
bisa membaca, melihat gambar berjalan di dalam kotak televisi itu rupanya satu
hiburan buat mereka. Tak heran, jika kadang demi bisa melihat televisi, mereka
akan berduyun-duyun turun dari atas ke Ciboleger dengan obor-obor di tangan.
Soal makanan pun,
mereka juga tak ketat lagi memberlakukan aturan. Sapri dan sebagian orang Cibeo
barangkali adalah penggemar indomie rebus telur rasa kari dengan irisan cabe
dan minuman kemasan macam Sprite atau Coca Cola. Waktu saya datang ke
Ciboleger, kawan Sapri tengah asyik menyantap makanan dan minuman itu.
Apa yang Masih Dipertahankan?
Seiring
berjalannya waktu, aturan masyarakat Baduy Dalam tak lagi ketat. Namun,
beberapa aturan seperti perkawinan, menjaga alam, dan budaya berladang tetap
dipegang teguh. Orang Baduy Dalam dinyatakan siap kawin saat sudah menginjak
usia 15 tahun. Mereka tak bisa memilih untuk jatuh cinta, karena garis jodoh
sudah ditetapkan oleh orang tua. Aldi misalnya, harus menerima perjodohan
dengan sepupunya.
“Untung cantik,”
selorohnya.
Ayu (19), salah satu perempuan di Baduy Luar yang menikah dengan pria idamannya (tanpa perjodohan orang tua)./ Dokumen Pribadi
Pernikahan di
Baduy Dalam dilakukan di depan kepala adat (Pu’un) dan digelar secara meriah
berhari-hari di rumah mempelai. Sapri bercerita pada saya, untuk menikahkan
Aldi, dia sampai harus merogoh kocek di atas 20 juta, karena membeli 100 ekor
ayam, ikan asin, dan berbagai mahar pengantin.
Aldi dan istri
harus hidup rukun sampai akhir hayat mereka. Di Baduy Dalam, orang yang sudah
dipersatukan Pu’un, tak boleh bercerai, kecuali salah satu orang meninggal
dunia, baru boleh menikah lagi. Pu’un di Baduy Dalam memang punya peran
penting, selain untuk menikahkan juga punya kewajiban memberi nama pada setiap
jabang bayi yang lahir. Nama-nama di Baduy Dalam sangat singkat, hanya terdiri
atas satu kata saja: Aldi, Sapri, Maang, Komong. Untuk pria yang sudah menikah
dan punya anak, nama mereka berganti dengan embel-embel “Ayah” dan disambung
dengan nama anak pertama. Sapri misalnya, lebih senang dipanggil Ayah Aldi saat
pertama berkenalan dengan kami.
Selain tradisi
pernikahan yang masih dipegang teguh, cara berpakaian pun tetap dipertahankan.
Orang Baduy Dalam akan mengenakan baju hitam dan atau putih saja, ikat kepala
putih, tanpa alas kaki. Tak heran, jika telapak kaki orang Baduy beradaptasi
dengan berbagai medan, sehingga biasanya akan jadi sangat tebal dan lebar.
Lantas, apa
bedanya Baduy Dalam dan Luar dalam persoalan adat? Soal berpakaian, di 53 Desa
Kanekes bagian luar, para lelaki mengenakan ikat kepala biru bermotif batik. Sementara,
perempuannya menggunakan kain batik dan baju biru tua atau hitam, lengkap
dengan berbagai perhiasan emas—di Baduy Dalam, emas dilarang. Meski begitu,
banyak pula orang Baduy Luar yang sudah mengenakan celana jeans dan alas kaki,
juga kaos-kaos modern.
Mereka juga
mendengarkan radio, tak terikat dengan perjodohan orang tua, memiliki telepon
genggam, dan menaiki kendaraan umum. Saat perjalanan dari Cijahe ke Stasiun
Rangkasbitung, saya kebetulan bersebelahan dengan dua warga Baduy Luar yang
juga berniat pergi ke Jakarta dengan kereta. Di Baduy Luar, saya juga melihat dua
ambu jajan bakso kuah yang kebetulan tengah berhenti di dekat area jembatan Gajeboh.
Pintalan benang yang diolah menjadi kain tenun oleh para perempuan Kanekes./ Dokumen Pribadi
Saya kira
persentuhan dengan orang luar, seiring maraknya turis bertandang ke Baduy,
telah mengubah pola pikir warga menjadi lebih terbuka terhadap perubahan,
modernisasi. Tak hanya itu, jumlah penduduk yang terus meningkat berbanding
dengan tanah ladang yang terbatas membuat warga Baduy melakukan berbagai
penyesuaian. Berdasarkan catatan demografi pertama yang ditulis Historia, jumlah penduduk pada 1888 di Baduy
hanya 291 jiwa. Angka itu terus meledak, lantaran adat melarang mereka
menggunakan kontrasepsi. Pada 2016, jumlah penduduk telah mencapai 11.667 jiwa
atau 3.402 kepala keluarga. Jumlah tersebut sangat timpang jika dibandingkan
dengan ketersediaan lahan yang berkisar 5.000-an hektar. Belum ditambah dengan
larangan mengolah lahan sempit dengan teknologi pertanian, seperti cangkul dan
traktor. Jangan lupa, beban berat mereka kian terasa setelah banyak warga yang
alih-alih menggarap ladang, tapi justru menebangi pohon agar kayunya bisa
dijual di kota.
Sumber penghidupan
kian sempit, sehingga banyak yang kemudian bergantung dari kedatangan
turis-turis. Karena itulah, seperti dugaan saya, mereka beradaptasi, tak hanya
di Luar tapi juga Dalam. Bahkan, meski aturan di Baduy Dalam yang relatif sudah
lebih longgar pun dipandang anak-anak muda menyandera kebebasan mereka. Mengutip
kata Heraclitus, ternyata hal yang abadi di dunia ini cuma perubahan itu
sendiri. Seperti mustahil membayangkan Baduy setia total pada tradisi, ketika
gesekan dengan orang luar tak terhindarkan dan tanah tak ada lagi.





Komentar
Posting Komentar