Yang Enak dan Tak Enak dari Pernikahan


Suami saya mencuci baju kami. Suami saya belanja ikan ke pasar dan memasaknya untuk kami, lengkap dengan sambal bawang ekstra pedas, yang dilumuri minyak goreng panas. Saya membersihkan rumah. Saya merawat buku-buku kami. Saya bercinta dengannya karena konsensus bersama. Saya menyelesaikan tesis sambil menulis. Suami menghidupi ambisinya menjadi geologis. Saya dan suami rutin berbincang sebelum sama-sama tidur malam hari. Semua itu kami lakukan sejak bertahun-tahun lalu, sebelum atau pun sesudah menikah.

Sebelum lebih jauh, saya ingin mengingatkan, tulisan ini tak akan cocok dibaca oleh mereka yang seksis, misoginis, moralis, dan candu pada agama. Pun, tak cocok juga bagi yang menganggap dirinya setengah terbuka, tapi masih punya standar ganda. Sebab, banyak sekali tatanan moral dan agama yang kami tabrak saat melakukan berbagai kebiasaan di atas. Jika, kamu mendaku diri sudah cukup permisif menghadapi kenyataan yang bertolak belakang dengan pakem kebanyakan, sila teruskan membaca.

Saya dan suami bertemu pada medio 2017. Ia masih menjadi milik orang lain, demikian halnya dengan saya. Sebenarnya tak benar-benar menjadi milik orang lain, kendati di jari kami, melingkar cincin dari pasangan masing-masing. Cinta yang saya pelajari dari hubungan yang sudah-sudah, selalu membebaskan. Nah, karena berlandaskan pada prinsip kebebasan itu, kami selalu meyakinkan diri untuk mengambil jalan apa pun, semata-mata demi bahagia. Kami yang tak bahagia dengan pasangan masing-masing sebelumnya, akhirnya memutuskan untuk mendua. Setelah bisa hidup bersama pun, saya tak memaksa dia untuk tetap tinggal, mengurungnya dalam komitmen jika tak ingin, atau menjadi orang lain demi menyenangkan pasangan. Saya hanya ingin dia bahagia.

Orang bilang, pernikahan itu selalu harus didasari atas cinta. Salah. Banyak orang menikah karena kepantasan publik, kepastian hukum, biar enggak disumpahi orang tua, biar bisa ngewe tanpa takut digrebek warga, dan sebab-sebab absurd lainnya. Meski begitu, ada pula yang beruntung, bisa menikah karena cinta, sepaket dengan restu semesta. Namun, satu hal yang saya yakini, hanya karena kamu berbagi ranjang yang sama atau membina hubungan lama, bukan berarti ia layak kamu nikahi. Bagi saya sendiri, alasan untuk menikah karena saya tak punya alasan kenapa harus tak menikah. Saya menemukan teman yang bisa saya ajak bicara tanpa takut kehabisan kata. Saya belajar mencintai diri dan kompromi sampai di level tergawat: mengorbankan ego saya yang terlampau tinggi. Saya menemukan pasangan yang mengajak tumbuh bersama, dan selalu meyakinkan saya, bahwa saya berharga setiap harinya. Sebenarnya kami saling menemukan.

Pernikahan bisa jadi cuma institusi bagi kami. Dua orang mengucap janji setia sampai modar, dan saling menjaga satu sama lain. Kami sudah mencicil segala komitmen itu lama, meski tak dinaungi stempel basah di buku nikah. Namun, karena kami sudah menikah saat ini, saya mau bilang, tak ada yang berubah sebelum dan sesudah menikah. Masalahnya, pernikahan itu tak selalu bicara yang indah-indah, Sayang. Makanya terselip lelucon, pernikahan itu menyimpan tiga “ring” (cincin): engagement ring, marriage ring, dan suffering. Beruntung, tiga-tiganya sudah khatam kami hadapi.

Menjadi kami tak mudah. Hidup susah, dari tinggal di kontrakan, makan nasi bungkus satu untuk berdua, jatuh bangun membangun kepercayaan, atau bertahan di tengah gempuran orang yang terlalu banyak ingin campur tangan. Dari mulai kami tinggal di apartemen maupun rumah mungil di Jakarta, untung saja kami terbiasa mencicil dan membagi segala hal bersama. Makanya, kesedihan yang paling nelangsa pun, bebannya cuma tersisa separuh karena kami bagi rata. Saya juga membagi kebahagiaan, saat berhasil meraih prestasi di pekerjaan, belajar hal menyenangkan di kampus, atau sekadar berbagi hobi yang (lucunya) sama.

Mulanya harus saya akui, menjadi seorang yang hopeless romantic, adalah ujian berat.. bagi dia. Mungkin akibat doktrin di masyarakat modern tentang gambaran hubungan romantis yang sempurna dan bahagia, banyak berserakan di film-film. Mungkin dari lagu-lagu yang saya putar berulang-ulang, hampir selalu berkelindan dengan urusan cinta-cintaan. Mungkin pula karena saya selalu jatuh pada lubang yang salah, berelasi dengan orang yang tak mendewasakan hubungan. Suami saya (waktu masih pacaran) jadi ikut terdoktrin untuk terus memberi kejutan lewat paket bunga seruni putih, yang diantar kurir ke meja kerja saya. Ia mengirimi saya makanan setiap jam 12.00 siang, demi memastikan perut tetap diisi meski sedang sibuk menulis. Ia menulis surat cinta.

Pasca-menikah, hal-hal semacam itu jarang dilakukan. Namun, bukan berarti kadar keromantisan jadi berkurang. Saya justru harus meredefinisi romantisme, dari yang dulunya disimbolkan lewat kata-kata manis nir-makna, karena terlalu sering diucapkan.

Romantis adalah nasi, ikan goreng, dan sambal bawang yang ia sajikan saat mata saya masih berjibaku untuk terbuka di pagi hari. Romantis adalah saat ia mendukung karier dan pendidikan saya mati-matian. Romantis adalah kerokan mesra dengan minyak kutus-kutus yang ia balurkan di sekujur badan saat saya masuk angina. Romantis adalah mencuci baju istrinya, ketika ia tahu saya alergi pada segala jenis sabun colek dan deterjen. Romantis adalah mengorbankan jam tidurnya demi menemani saya bicara soal keresahan pribadi. Romantis adalah menonton film yang kurang ia sukai sampai menguap tiada henti, tapi ia bertahan. Romantis adalah memerjuangkan saya di atas segalanya, sampai kehilangan banyak hal. Romantis adalah mengajak saya menganggap mantan adalah hal paling konyol yang setiap hari layak untuk kami tertawakan karena kepandiran dan kenaifannya. Romantis adalah membiarkan kami bahagia tanpa takut tak memenuhi ekspektasi orang lain.

Saya beruntung menemukan dia, dan tak akan pernah bosan untuk mengulangnya. Saya tak pernah tahu apa yang ada di masa depan, tapi jika pernikahan ini hanya jadi salah satu babak, saya akan selalu merasa beruntung memilikinya.

Sudah cukup indah?

Sekarang mari bicara yang jauh dari kata indah. Pernikahan adalah menjadi orang paling sial sedunia, karena harus siap melayani suami, bahkan saat nafsu pribadi tak menggelora. RUU KUHP dan negara memang sekejam itu sih. Pernikahan adalah ketakutan pasangan akan pergi, setelah mati-matian berinvestasi pada ongkos akad dan resepsi mahal. Pernikahan adalah menjadi orang lain dan lupa mencintai diri, karena takut pasangan marah. Pernikahan adalah menyerahkan seluruh penghasilan pada istri karena memang begitulah harusnya. Pernikahan adalah menolak berbagi peran di rumah, karena urusan domestik adalah tanggung jawab istri. Pernikahan adalah upaya terstruktur, sistematis, dan massif untuk membonsai kemampuan istri, mengubur mimpi dan cita-cita istri yang ingin terus maju. Pernikahan adalah ketakutan karena bayang-bayang dari masa lalu yang menyandera kebahagiaan berdua. Pernikahan adalah malam-malam panjang, hari-hari lelah penuh tekanan, dan hidup membosankan.

Sayangnya, semua hal yang tak indah itu tak pernah ada di hidup kami. Cinta kami bukan obsesi kompulsif nan kronik terhadap fantasi bahagia, rasa aman, dan penghargaan. Sebaliknya, cinta kami tak pernah butuh pengakuan, apalagi pemakluman dari orang lain. Pernikahan kami tak harus repot teriak-teriak di depan semua orang dan pamer sana-sini demi menunjukkan kalau kami bahagia (pura-pura bahagia?). Terakhir, pernikahan kami tak butuh restu dari siapa pun, karena kami hidup di dunia yang kami bangun sendiri. Tanpa pakem, tanpa aturan yang mengekang, tapi cuma ada cinta dan kompromi satu sama lain. Saya kira, derajat paling tinggi dari orang yang bersama bukan pernikahan, tapi dua hal itu. Beruntung kami memilikinya. Semoga kamu juga ya, Sayang.



Komentar