Saat Islam Kawin dengan Asing, Jadilah Cirebon


Instalasi seni tari topeng asal Cirebon yang terpampang di Museum Trupark./ Dokumen Pribadi

Apa yang membedakan Cirebon, Solo, dan Yogyakarta, tiga di antara sekian kota kerajaan yang sampai kini jejak sejarahnya masih terang terlihat?

Saya tinggal di Yogyakarta sekitar lima tahun dari kurun 2010 sampai awal 2015. Sebelum mentas dari sana, saya menyusun tugas akhir di kampus soal pertarungan kuasa di ruang publik Yogyakarta. Lantaran tugas tersebut, mau tak mau saya harus membaca sejarah kota yang tenar dengan gudeg manisnya. Seingat saya, sosiolog Selo Sumardjan pernah mendongeng dalam bukunya soal demografi penduduk, historiografi keraton yang kerap berkelindan dengan mistisisme Jawa, dan akulturasi yang terjadi di kota ini. Dari penjelasan Selo, saya menangkap ada kemiripan pola yang terjadi di Yogyakarta dan Solo. Keduanya sama-sama terbentuk dari tradisi kejawen yang kental, serta karakter masyarakat yang tertutup pada mulanya, lalu bergeser jadi lebih longgar pasca-penjajah Belanda masuk.

Meski pada akhirnya terjadi akulturasi budaya dengan asing, maupun dengan para pedagang dari Cina, Arab, dan lainnya, tapi ke-Jogja-an Yogyakarta atau ciri khas Solo tak pernah pudar. Itu diejawantahkan pada daerah pemukiman yang tak pernah bercampur sampai sekarang. Selalu ada kampung Cina, kampung Arab, bahkan kampung abdi dalem, kampung tentara bugis. Demikian halnya dengan corak motif batik yang cenderung kaku dengan warna gelap serta bangunan keraton yang sangat njawani.
Bunga tumbuh mekar di halaman Goa Sunyaragi, Cirebon./ Dokumen Pribadi

Sementara Cirebon, menurut saya di hampir seluruh bangunan sisa kerajaan dan cagar budaya selalu ada motif yang bertabrakan. Masjid di Cirebon, keramiknya dari Tiongkok, keraton, pun makam Sunan Gunung Djati berhiaskan keramik Negeri Tirai Bambu tersebut. Awalnya saya kira corak berbeda disebabkan oleh lokasi Cirebon yang secara sosiografis memang jadi pertumbukan Sunda dan Jawa, tapi konon, letaknya yang di pesisir membuat Cirebon makin berwarna dengan kedatangan pedagang Cina dan Arab. Mereka tak cukup mendiami daerah pemukiman yang terlokalisasi, tapi juga berinteraksi aktif dengan penduduk. Makanya tak heran, jika Cirebon menjadi daerah bekas kerajaan yang sangat berbeda dengan keraton di Solo dan Yogyakarta.

Satu lagi yang paling kentara adalah motif batik yang cenderung tak monoton, dengan didukung warna-warna cerah. Dari obrolan saya dengan beberapa pembatik di sekitar Trusmi, kampung penghasil batik Cirebon, motif itu adalah legasi dari istri Sunan Gunung Djati dari Cina, Ong Tien Nio. Gundah hati karena tak kunjung dianugerahi anak membuat putri Cina itu menumpahkannya pada kain. Ia melukis kain itu dengan corak cerah ceria seperti musim semi di Cina. Motif tersebut belakangan kita kenal dengan sebutan “mega mendung”.

Motif batik Mega Mendung khas Cirebon yang sarat sentuhan Cina./ Dokumen Pribadi

Cirebon yang berbeda ini membuat saya tak pernah bosan mengunjunginya. Buat saya, menyambangi Cirebon tak sekadar perjalanan badan, tapi juga seperti menziarahi batin, menyusuri kenangan. Sebab, Cirebon tak cuma jadi lumbung kuliner enak saja buat lidah saya: empal gentong dan nasi jamblang, tapi keberadaan ritus serta situs sejarahnya bisa melemparkan imajinasi saya ke titik terjauh, momen terjauh sampai berdekade-dekade silam.

Selain tamasya sejarah, datang ke tempat semacam Goa Sunyaragi terasa seperti memberi jeda pada diri sendiri. Seperti mencari jalan pulang ke diri sesuai dengan falsafah goa yang memang dinaksudkan untuk mensunyikan raga. Pun, berkunjung ke Museum Trupark lalu belajar tahapan manusia dari fase tabula rasa sampai dewasa. Cirebon selalu punya alasan-alasan seperti itu untuk memanggil saya datang kembali.







Beberapa foto yang saya ambil di Goa Sunyaragi, salah satu wisata unggulan Cirebon.

Catatan:
Untuk ke Cirebon dari Jakarta, paling mudah naik kereta dengan ongkos Rp35.000 lalu menyewa sepeda motor seharga Rp80.000-Rp100.000. Bisa pula naik angkot, ojek daring, atau bus wisata dengan paket keliling Cirebon tanpa berhenti. 

Komentar