Ranca Upas dan Kenangan di Titik Nadir


Pagi berkabut di Ranca Upas, Bandung./ Dokumen Pribadi

Menjelang pagi di Ranca Upas adalah saat yang paling tak saya sukai. Dingin menggigit dan matahari yang terlambat datang, cukup jadi alasan saya untuk makin meringkuk dalam kantong tidur. Cuaca pagi ini sebelas derajat celcius, tapi sudah cukup melahirkan embun yang sepintas bak butiran salju. Beberapa tirai tenda tersibak. Sepertinya orang-orang sudah mulai bangun untuk, menjerang air atau sekadar pemanasan sebelum menyantap semangkuk mi instan lagi. Suara sandal mereka yang diseret-seret dengan segera memecah keheningan. Saya memang memasang tenda di dekat jalan agar lebih mudah menuju toilet umum, tapi risikonya jadi berisik sekali.

Saya melirik suami yang masih tertidur lelap. Ranca Upas memang pilihan tepat untuk tidur tanpa diusik nyamuk atau panas yang berlebihan seperti Jakarta. Kami memilih berkemah di tempat yang berdekatan dengan kawah putih Ciwidey, Bandung karena sebab-sebab itu. Sebenarnya bisa saja berkemah di Bogor yang sama saja dinginnya, tapi Bandung. Ah, membayangkan Bandung seperti membayangkan surga kecil dengan berbagai kudapan yang bikin liur menetes. Tentu saja dalam hal ini, berkemah tetap jadi misi utama, tapi soal kuliner, kami tak punya daya untuk menolaknya.

Ranca Upas kami jangkau dengan meminjam sepeda motor dari Bandung Kota. Itu cara termudah dibanding berkali-kali pindah transportasi umum. Perjalananan ke sini dari kota memakan waktu sekitar dua jam, dengan bentang jalan yang variatif, dari yang berlubang dengan debu tebal sampai jalan mulus seperti pipi artis. Sesampainya di Ranca Upas, kondisi memang tengah ramai-ramainya. Maklum, bertepatan dengan perayaan proklamasi Indonesia, jadi sebagian orang memilih menghayati kemerdekaan tersebut dengan berkemah lalu mengibarkan merah putih, api unggun, dan berbagai ritual umum lainnya.

Bermalam sambil menyalakan api unggun. Penjual mi instan di sini juga menyediakan satu ikat kayu seharga Rp15.000./ Dokumen Pribadi

Sementara bagi saya dan suami yang memang tak nasionalis-nasionalis amat (dengan catatan jika nasionalis cuma diukur dari berapa intens mengikuti upacara bendera tiap tujuh belasan), maka motivasi kami berkemah cuma demi merenungkan kembali hidup. Agak basi ya? Itu yang dirasakan suami saya pada mulanya.

“Buat apa orang rela meninggalkan kasur empuk di rumah demi tidur di tengah alam sih?” gerutunya.

Jawabannya bisa saja saya karang dengan ndakik-ndakik, tapi memang alasan saya cuma ingin merenung. Makanya kali ini saya menolak berkemah dengan banyak orang. Berkemah berdua saja dengan ia ternyata adalah pilihan bijak, mengingat kami bisa berbincang lebih intim soal rumah tangga, karier, pendidikan saya, pendidikan ia, anak, dan definisi kebahagiaan kami yang puji syukur masih sama. Kami bicara dari sore sampai sama-sama mengantuk tengah malam. Namun, tidur di malam itu membawa perasaan yang berbeda dari biasanya. Saya merasa lega.

Suami saya sebelumnya selalu berprinsip, segala kebahagiaan selalu bersumber dari hal-hal materialistis, yang bisa diukur dengan jelas, teraba, bisa dilihat orang lain. Cara untuk mencapai kebahagiaan itu sudah pasti dengan uang. Sementara bagi saya yang idealis cenderung sinting, uang tak selamanya bisa membeli kebahagiaan. Justru uang yang selalu membuat manusia khawatir, membuat saya dilanda penyakit kecemasan sejak kehilangan itu semua di usia 17. Orang tua saya bangkrut, dan jelas sebagai remaja yang lebih senang haha-hihi bersama teman, itu adalah ujian berat. Saya bekerja secara mandiri sejak itu. Apa saja, di mana saja, asal bisa bertahan. Idealisme di satu sisi dan logika bertahan hidup di sisi lain membuat hati saya berperang. Makanya saya sempat mencicipi lapangan kerja yang tak ada hubungannya dengan idealisme pribadi apalagi prinsip kebergunaan yang selalu ditanamkan ayah saya.

Selama perjalanan yang berkelok itu, orang-orang menunjuk hidung saya, merendahkan, dan memandang miring apa yang saya lakukan. Bahkan rasa diremehkan itu juga muncul justru dari orang-orang terdekat. Mereka bilang saya memuja uang lalu menggadaikan idealisme sampai harus capai merantau ke Sumatera demi segepok uang. Namun, sayup-sayup mereka berbisik, Ayu adalah soal apa yang ia kenakan, sepatunya, gaya hidupnya, pasangannya, emas yang memenuhi badan. Apa sebenarnya mau orang-orang pada saya? Saat itulah saya belajar satu hal, untuk tak mendengarkan semua informasi yang keluar dari mulut orang lain. Untung saya dianugerahi kepala sekeras batu.

Uang cuma membuat manusia selalu khawatir, demikian menurut Alexander Supertramp./ Dokumen Pribadi

Di titik itu pula saya merasa, uang biar bagaimana pun bukan tujuan utama manusia hidup. Jika ada yang beruntung diberkahi harta berkecukupan sampai tak pernah merasai hidup susah seperti yang saya dan sebagian besar orang alami, maka otomatis saya merasa iba padanya. Mereka bicara ndakik-ndakik soal asas kebermanfaatan, padahal merasai perut lapar karena tak makan dua hari atau tidur di tengah alam karena tak punya pilihan saja tak pernah. Saya yakin, jika Karl Marx tak menanggalkan status ningratnya untuk turba di tengah kalangan buruh, teori mashurnya soal classless society tak akan lahir. Lha ente, hidup enak serba kecukupan dari lahir sampai besar, tak pernah dirundung masalah besar, tiba-tiba mendaku diri sebagai manusia baik, yang bisa merasai apa yang orang tak beruntung rasakan saat lapar atau kesulitan?

Saya bisa saja salah dalam hal ini. Namun, kebaikan universal tak pernah keliru. Untuk jadi baik, kamu harus merasa kuat, setidaknya mampu menghadapi kebutaan dan ketulian dengan kepala dan tanganmu sendiri. Mirip yang dikatakan Christoper mcCandles alias Alexander Supertramp yang mati di magic bus hutan Alaska,  setelah meninggalkan uang, ketenaran, dan pendidikan hukumnya di Universitas Harvard. Menurutnya, “Betapa penting dalam hidup bukan untuk menjadi kuat tapi untuk merasa kuat, untuk mengukur kemampuan dirimu setidaknya sekali saja, untuk tahu rasanya berada dalam hal paling purba dari sejarah manusia, menghadapi kebutaan dan ketulian sendiri tanpa apapun yang membantumu kecuali tanganmu dan kepalamu sendiri.”

Setidaknya perkataan pria “setengah gila” yang berpetualang di alam bebas secara solo itu bisa bebas kita tafsirkan sebagai ajakan untuk betul-betul berada di posisi terlemah manusia: miskin, lapar, patah hati, jatuh sejatuh-jatuhnya, sakit sesakit-sakitnya, dan diinjak-injak dengan keras.

Embun pagi hari./ Dokumen Pribadi

Nah, perjalanan ke Ranca Upas ini adalah cara saya untuk mengingat-ingat semua kondisi saya ketika di titik nadir, lemah, dingin, lapar, sunyi, sendiri.

“Saya berharap perjalanan ini tak jadi cara kita membunuh waktu saat kamu libur kerja, tapi juga kesempatan untuk menengok diri ke dalam, merenungkan segala hal,” kata saya pada suami.

 Seperti saya yang telah terlalu banyak membiarkan orang datang lalu menyakiti atau sebaliknya saya yang menyakiti. Maka, perjalanan ini adalah refleksi untuk meminta maaf sekaligus bersyukur. Kadang, dalam hidup, luka apa saja bisa membuat manusia kian cantik. Oleh karena itu berterima kasihlah pada mereka yang mencinta, tapi bersyukurlah jika ada para pembenci. Sebab, dari mereka kita belajar untuk bangkit, mengampuni, dan mengenal diri.

Dalam hal meredefinisikan kebahagiaan khususnya, memposisikan diri di titik ketika di rumah saya cuma ada mi instan yang bisa dimakan, dan tidur berhimpitan di bilik kamar sewaan tak layak setelah bangkrut, adalah cara termudah untuk bersyukur atas semua kebaikan dan keburukan yang terjadi pada saya hari ini.

See, hidup tak melulu soal uang, Mas.”
Kalau hidup sekadar hidup, hewan di Ranca Upas juga hidup. Inti hidup katanya untuk berguna dan membagi kebermanfaatan dan kebahagiaan dengan orang lain./ Dokumen Pribadi

Komentar