Para Pemalas di Tebing Koja


Sudut favorit untuk swafoto di Tebing Koja./ Dokumen Pribadi
“Dolce far Niente” kata orang Italia, untuk menyebut kondisi ketika kita boleh tak melakukan apa-apa. Mengambil jeda. Namun, tak melakukan apa-apa jelas berbeda dengan pemalas atau prokrastinator seperti saya. Di Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman, orang memilih tidak melakukan apa-apa, sehingga lowongan kerja yang tak terisi pada 2016 di sana selalu di atas 20%. Di Siprus, negara favorit orang beda agama di Timur Tengah minta dinikahkan, rerata penduduknya juga lebih senang menunggu matahari sambil bersantai di pantai. Di Indonesia, orang malas justru diberi ruang dan pemakluman. Maklum, negara santuy.

Namun, apa jadinya kalau tabiat pemalas ini justru membuat saya yang suka jalan-jalan ke tempat antah-berantah, menderita kerugian. Ceritanya bermula pada suatu subuh di hari Minggu. Entah kenapa saya malas sekali lari pagi seperti biasa. Kesibukan di kuliah pun sebenarnya tak banyak menyita waktu, tapi saya cuma mau keluar dari Jakarta hari itu. Tangerang jadi pilihan paling masuk akal buat saya yang sudah terlampau bosan dengan Depok, Bogor, Tangerang Selatan. Datang tanpa membawa ekspektasi apa-apa, apalagi rencana perjalanan yang tersusun mantap, saya spontan naik komuter tujuan Rangkasbitung. Pikir saya waktu itu, kalau tak menemukan apa-apa, tak masalah jika saya datang lagi ke Museum Multatuli di Lebak atau bertemu Ayah Sapri di Kampung Baduy.

Setelah mencari berbagai informasi yang terserak di Google, ada secuil lanskap baru yang konon sedang jadi incaran anak-anak pecandu objek instagrammable: Tebing Koja. Lokasinya di Desa Cikuya, Solear, Tangerang. Jika mengendarai komuter seperti saya, cukup turun di Stasiun Tigaraksa lalu sambung naik ojek daring seharga rerata Rp15.000. Itu pun dengan catatan, berjalan kaki dulu seratus meter ke arah Perumahan Adiyasa, agar tak dihadang ojek pangkalan yang punya sentimen. Jika turun di Stasiun Maja, agar efisien, moda ojek daring bisa jadi pilihan lalu turun di pinggiran sungai untuk menyeberang dengan perahu kecil milik warga. Ongkosnya Rp5.000.

Saya memilih opsi pertama. Namun, siapa sangka, keputusan itu justru membuat saya kesal setengah mati. Untuk jarak tempuh enam kilometer, saya harus mengeluarkan uang pungutan liar hingga dua kali. Nilainya memang tak seberapa, tapi jika setiap seratus meter, para preman setempat sudah siap meminta uang pada pengunjung agar masuk kantung pribadi, saya jadi tak nyaman. Ini belum termasuk ongkos masuk, biaya parkir, dan ongkos-ongkos ajaib lainnya. Lebih ajaib dari tukang parkir siluman di areal Indomaret atau Alfamart yang mendadak muncul.

Deden Lubis (31) yang menyambut kedatangan saya di dekat pintu masuk mengeluhkan hal serupa. Pria yang mengelola satu warung mi instan dan kudapan di dalam Tebing Koja ini mengaku jengah dengan ulah para preman yang memungut uang secara ilegal dari para pengunjung.

Bayangin, Teh, Aden (nama panggilannya. Pen) yang kerja keras, tapi para preman tersebut yang panen besar,” ujarnya pada saya minggu lalu.

Betul juga. Tebing Koja ini punya tiga pintu masuk: Kandang Gozilla, Tebing Matahari, dan pintu masuk paling ujung yang dikelola Deden. Pengunjung bisa saja memilih memarkirkan kendaraannya di pintu Kandang Gozilla, bukan punya Deden, sehingga keuntungan masuk ke pengelola sebelah. Namun, para preman ini tetap mengeruk untung karena akses jalannya selalu melewati pangkalan tempat mereka nongkrong.

Saat libur Lebaran lalu, jumlah preman yang berjaga lebih banyak lagi. Tak hanya setiap seratus meter, tapi lima puluh meter sekali, semua kendaraan masuk dihadang pajak ilegal. Biasanya mereka akan mencetak biaya masuk itu di atas kertas HVS kecil dengan ongkos yang bervariasi, dari Rp3.000, Rp5.000, dan seterusnya. Tak tanggung-tanggung, kendaraan penghujung bisa diberhentikan preman sebanyak lima kali. Hitung saja, dengan pengunjung yang rerata kalau sedang ramai bisa mencapai ratusan orang dari mulai buka jam 06.00 hingga 18.00 WIB.

Konon, karena pungutan liar inilah, jumlah pengunjung di Tebing Koja menurun drastis. Saya sibuk bertanya pada Deden, tapi dia tak pernah menghitung angka rigidnya.

“Paling mudah terasa sebenarnya dari pendapatan warung. Dulu ramai, sekarang jadi sepi,” tutur istri Deden menimpali.

Saat saya datang, beberapa warung di sekitar Deden memang tak buka. Agak aneh, mengingat hari Minggu mestinya jadi kesempatan mencari keuntungan dari berjualan makanan dan minuman. Memang, ada beberapa rombongan yang datang mengendarai mobil untuk melakukan pemotretan pra-wedding.

“ Dulu kami tak pernah mematok biaya khusus kalau ada yang datang ingin foto dengan pasangan di sini. Sekarang, ya kalau mau foto harus bayar Rp200.000-Rp400.000 minimal. Beberapa fotografer seperti Tony Motret bahkan mematok angka lebih fantastis, sekitar Rp4 juta untuk paket foto, rias, dan busana di Tebing Koja,” jelas pria yang sempat mengisi peran figuran di film kolosal “Wiro Sableng” ini.

Tebing Koja memang jadi buah bibir terutama setelah digunakan sebagai salah satu lokasi syuting film yang dibintangi Vino G. Bastian. Seluruh area waktu itu ditutup seng agar kondusif. Deden cerita, gara-gara itu, ia bisa bertemu dengan Cecep Rahman, Sherina, dan artis-artis lainnya.

“Dibayar Rp200.000 kalau tak salah sama nasi bungkus. Lumayan,” ungkapnya tertawa.

Sejak  itu Tebing Koja diburu para wisatawan. Lebih ramai dibanding pertama diperkenalkan oleh fotografer lokal, Tony Motret.

Jika dilihat sepintas, Tebing Koja ini tampak biasa saja. Namun, jika kamu jeli mengambil sudut-sudut foto atau setidaknya membawa drone, kamu akan melihat Koja seperti permadani coklat yang tampak mencolok dengan genangan mirip danau mini berwarna hijau tua. Sebagai lokasi bekas penambangan pasir yang dikelola perorangan sejak 2010, Koja mulanya tak disangka Deden bakal bersolek seperti sekarang.

Deden menyeka keringat sambil sibuk melanjutkan kisahnya pada saya. Koja memang panas, makanya tak disarankan datang di siang bolong begini. Deden sendiri dulunya menghidupi keluarga dengan menjadi penambang pasir. Ada dua pemilih tanah di lokasi ini, Parta dan Junaedi. Ia bekerja untuk Parta sampai 2015, masa ketika lahan ini mulai ditutup untuk tambang. Biasanya, lanjut ia, para penambang cuma mengandalkan piranti sederhana, dari cangkul, parang, dan lainnya. Namun, penambangan tradisional ini justru membuat bentuk tebing pasir yang ditinggalkan jadi artistik mengikuti pola asimetris.

Umumnya ada beberapa bagian yang jadi favorit ketika berkunjung ke sini. Salah satunya yang disebut Deden sebagai “padang pasir”. Tak ada pasir menghampar, cuma begitu saja orang menyebut tempat ini. Padang pasir adalah sebuah cerukan yang dikelilingi tebing dengan satu pintu keluar kecil yang hanya bisa dilewati satu orang. Lokasi lain, danau yang bisa dimanfaatkan untuk bersenang-senang naik sampan kecil dengan ongkos Rp5.000 saja per orang. Ada lagi, Kandang Gozilla. Menurut saya lebih mirip punuk unta, semacam gundukan bebatuan pasir kuning yang konon terpahat seperti wujud gozilla, salah satu ikon dari dunia per-dinosaurus-an.

Bagi orang yang betul-betul serius membangun dan membesarkan Tebing Koja agar bisa naik kelas seperti sekarang (?) tentu jadi perjuangan tersendiri. Menyisihkan waktu, berpanas-panasan mengantar pengunjung, membuka warung dari pagi sampai sore, merawat, dan membersihkan lokasi wisata. Cuma para pemalas seperti pencatut ongkos ilegal saja yang menyabotase nilai perjuangan mereka.
Pengunjung berfoto di spot Kandang Gozilla./ Dokumen Pribadi
“Tebing Koja membuat warga biasa seperti kami jadi punya penghasilan dari berjualan di warung atau membantu pengunjung. Sementara, para preman cuma mau enaknya saja.”

“Enggak dilaporkan pada pemerintah setempat, Kang?”

“Sudah pernah. Namanya sudah tabiat, susah diubah, Teh.”

Di titik ini saya jadi mengingat diri sendiri yang mengharapkan hasil besar dengan usaha sama dan sekadarnya tiap hari. Bukankah ini cukup lucu?


Komentar