Membayangkan Jadi Syahrir dan Hatta di Situgunung


Bapak nelayan yang sedang bercengkrama di tepi danau./ Dokumen pribadi.

Andai saja Hatta dan Syahrir masih hidup sekarang, kira-kira apa yang ada di benak mereka saat melihat Kota Sukabumi?

Jauh sebelum Indonesia merdeka dan Jepang belum mengambil alih kekuasaan, dua negarawan itu memang sempat diasingkan Hindia Belanda ke Sukabumi. Mereka menghuni kediaman perwira senior sekolah polisi Belanda di Jalan Bhayangkara Nomor 156A. Alasan pengasingan itu satu, Sukabumi adalah kota paling aman karena ada asrama polisi. Mungkin lebih manusiawi juga dibandingkan pengasingan mereka sebelumnya di Banda Neira.

Selain digadang-gadang sebagai tempat aman yang letaknya tak jauh-jauh amat dari Ibu Kota, Sukabumi juga indah. Keindahan itu bahkan tampak dari doa orang Sunda saat menyematkan nama Sukabumi. Andries De Wilde, tuan tanah Londo pertama di Priangan menjelaskan, Sukabumi berasal dari kata “suka-bumen”, tempat yang sejuk dan nyaman, sehingga orang senang mendirikan rumah “bumen-bumen”.

Saya rasa tak ada yang menampik ikhwal kenyamanan kota yang selalu macet tiap Juni karena pawai samenan ini. Dugaan saya, meski Sukabumi banyak pembangunan, dari Jalan Tol Bocimi, jalur ganda rel sepur, sampai wacana pembuatan bandara, ia tetap sejuk, sesejuk saat Hatta dan Syahrir datang ke sini pada 1942.

Barangkali salah satu yang membedakan cuma keramaian yang mendadak melingkungi kota terutama saat akhir pekan tiba. Habis mau bagaimana, kita yang jumud tinggal di Jakarta tapi bosan dengan Bogor, tinggal duduk manis menumpang kereta ke Sukabumi. Dengan ongkos Rp35.000 dari Bogor Paledang, kita cuma butuh waktu tiga jam saja bertolak ke Sukabumi.

Pemandangan danau di Situgunung. Untuk ke sini, selain berjalan kaki bisa menumpang ojek pangkalan seharga Rp10.000-Rp15.000./ Dokumen pribadi.

Saya sendiri datang ke Sukabumi bukan dalam rangka memanjat gunung Gede dari Pondok Halimun. Situgunung dengan jembatan gantung sepanjang 243 meter yang menarik perhatian saya. Jembatan setinggi 121 meter ini menjadi jalan pintas bagi saya untuk main air di Curug Sawer tanpa perlu capai membelah hutan. Lokasi ini memang terbilang baru berkembang sebagai lokasi wisata. Jika mengintip laman situgunungbridge.com, Dede Asad seorang taipan yang bikin glamping Ciwidey dan wisata Pantai Sawarna lah yang pertama menginisiasi pembangunan jembatan tersebut. Jembatan yang dibangun secara manual oleh tenaga setempat dan ahli dari Bandung berhasil rampung dalam empat bulan, tapi baru diresmikan pada Maret 2019.

Di zaman Syahrir dan Hatta jelas tak ada jembatan semacam ini. Namun, saya menjamin, jembatan ini tak mencoreng keasrian alam, sebaliknya justru mempermudah akses wisatawan ke lokasi curug. Belum termasuk manfaat lain yang dirasakan warga lantaran bisa berjualan makanan dan minuman di areal jembatan, curug, perkemahan, atau danau tak jauh dari lokasi jembatan.
Penjual makanan dari kalangan warga sekitar./ Dokumen pribadi.

Untuk ke sini pun relatif mudah. Jika dari Jakarta dan naik transportasi umum, tinggal memulainya dengan menumpang komuter menuju Stasiun Bogor. Lalu jalan sekira seratus meter ke seberang, menuju Stasiun Bogor Paledang. Stasiun Paledang ini kecil, dan lokasinya agak tersembunyi, tapi beberapa kali ke sana, stasiun selalu padat disesaki calon penumpang. Untuk ke Situgunung, sebaiknya turun di Stasiun Cisaat, tiga stasiun sebelum Stasiun Sukabumi. Kemudian, menyambung perjalanan dengan naik ojek daring atau angkotan umum sampai turun di depan pintu masuk wisata.

Saat ke sini, saya membayar tiket masuk dua kali, satu dikelola oleh pemerintah setempat, dan kita bisa mengakses semua area kecuali jembatan. Sisanya dikelola oleh Dede Asad khusus untuk memasuki jembatan. Tiket jembatan lebih mahal, kira-kira Rp50.000, saya lupa persisnya. Namun, saya kira setimpal karena fasilitas yang kita temui sudah dikelola dengan baik. Toilet super bersih dan banyak, makanan ringan seperti singkong rebus, kacang, pisang, pun kopi dan teh siap tersedia. Jembatannya juga aman karena dilengkapi dengan alat pengamanan yang memadai, meskipun tiap kali angin bertiup agak kencang, batin saya langsung jeri.
Bocah asyik bermain air di hilir air terjun./ Dokumen Pribadi

Sepulang dari jembatan, kita bisa bersantai di areal danau tak jauh dari lokasi awal. Ada sampan nelayan yang dibiarkan menepi saat saya datang ke sana. Ada dua nelayan yang sibuk bercengkrama di atas sampan, seolah tak terusik dengan kehadiran saya. Sambil melihat ke ujung danau, saya jadi asyik melamun soal mereka. Orang susah cari kebahagiaan dari perkara uang, mengejar jabatan, sampai memuaskan hasrat di ranjang. Sementara kadang yang kau butuhkan sekadar duduk berbincang tentang hal remeh dengan kawat dekat di pinggir danau, lalu menertawakan tragedi masing-masing. Persis seperti yang dilakukan nelayan ini.

Tak terusiknya nelayan di Situgunung melemparkan saya pada bayangan soal Hatta dan Syahrir. Dua-duanya sama diasingkan ke Banda Neira lalu Sukabumi, dua-duanya berkawan karib dan mendiskusikan negara, dua-duanya teknokrat yang melahap buku berpeti-peti, dua-duanya menerima tamu dari sastrawan Amir Syarifuddin, wartawan Belanda si Beb Vuyk, dan lainnya. Namun, saya kira berbagi pengalaman diasingkan bersama di kota sesejuk dan seindah Sukabumi telah menorehkan kedekatan tersendiri bagi keduanya. Mereka berbincang soal romantisme perjuangan di masa transisi, soal keluarga yang sebagian ditinggalkan jauh, tentang kebahagiaan.

Tiba-tiba dua nelayan di depan saya berubah jadi Syahrir dan Hatta.


Swafoto di jembatan terpanjang di Jawa Barat./ Dokumen Pribadi

Komentar