Ciletuh, Ciletuh, Cil..etuh

Bukit Dharma, salah satu lokasi wisata di Ciletuh./ Dokumen Pribadi
Masih dalam episode perjalanan ke Sukabumi, Ciletuh, tempat yang saya datangi sekarang, jauh berbeda dengan Situgunung. Selain lebih jauh (lokasi Ciletuh lebih dekat ke ujung Jawa Barat, tepatnya di Pelabuhan Ratu) dan dikelola sekadarnya bahkan untuk ukuran geopark kaliber nasional, persoalan transportasi adalah ujian terberat saya, suami, dan dua kawan perjalanan lain.

Jika tak membawa kendaraan sendiri seperti kami, maka perjalanan mendaki ke jalur neraka ini harus ditempuh dengan elf, yang setiap sepuluh menit batuk-batuk karena termakan usia. Padahal lama perjalanan jika lewat jalur baru butuh waktu dua jam, sedang jika lewat jalur lama bisa mencapai empat jam. Naik elf dilarang mengantuk, karena mobil ini bisa saja mogok atau mundur perlahan ketika sudah ngos-ngosan mendaki. Untung, sopirnya berisik. Meski tahu penumpang yang memanfaatkan rute ini cuma segelintir orang, ia akan dengan lapang dada meneriakkan “Ciletuh, Ciletuh, Cil.. etuh” sepanjang jalan. Teriakannya pas, iramanya meliuk, nyaring, dengan logat Sunda yang kental. Rasa mengantuk pun buyar seketika.

Ciletuh sendiri sebenarnya adalah semua definisi yang saya butuhkan untuk belajar tawakal sampai akhirnya tiba di tujuan. Pasalnya, dari mulai persoalan transportasi yang minim dan tak layak, saya yang memang agak kagok bicara bahasa Sunda, sering jadi bulan-bulanan penduduk setempat yang cari uang dengan memanfaatkan ketidaktahuan kami.

“Kalau ke sana, angkot bayar sekian, naik ojek saya yang paling murah, jangan pakai jasa itu, jalan saja terus nanti juga ketemu, hotel saya paling dekat lokasi wisata, pakai mobil saya tinggal harga disesuaikan, sewa motor saya dijamin aman asal tidak bertemu polisi tukang tilang, dan seterusnya.”

Kesal. Sepanjang perjalanan saya sering dibohongi dengan motif mengeruk keuntungan pribadi. Saya yang setiap kali berwisata selalu berbaik sangka pada penduduk, mendadak jadi malas berurusan dengan tipu daya mereka. Mungkin ada benarnya juga, pemerintah terlalu tergesa menetapkan lokasi ini sebagai kawasan geopark nasional. Masyarakat belum siap, sehingga gegar budaya pun tak terelakkan. Masalahnya, ketidaksiapan itu berimbas pada penjelajah fakir macam saya. Di sana-sini penduduk sibuk mengutip uang. Itu betul-betul mengesalkan.
Air terjun Cimarinjung./ Dokumen Pribadi
Untung, kekesalan, letih, patah hati karena dibohongi penduduk, terbayar lunas. Ciletuh adalah paket lengkap buatmu yang doyan renang tipis-tipis di air terjun, berselancar di laut dengan ombak setinggi dua hingga tiga meter, lari-lari bareng pasangan seperti adegan jamak film India di pematang sawah, susur sungai, atau sekadar jalan ke bukit. Mungkin butuh tiga sampai lima hari agar puas mengelilingi 32 titik wisata di geopark ini.

Nah, tapi lagi-lagi buat saya dan teman-teman backpacker kemarin, pergi ke Ciletuh adalah perjuangan. Jalan kaki naik turun bukit, menumpang mobil pick up sesekali, naik angkot, elf, bus semua dijabanin. Apa pasal? Ya seperti yang saya bilang sebelumnya, memang sangat jarang transportasi umum yang menjangkau daerah ini. Disarankan naik kendaraan pribadi yang kuat digeber pakai kopling satu sampai atas. Kalau pun terpaksa naik transportasi umum, sesampainya di Pelabuhan Ratu, carilah penginapan yang sekaligus menyediakan jasa sewa motor atau mobil.

Nah, jika buat saya Ciletuh adalah paket lengkap untuk bersenang-senang, lain halnya dengan suami yang memuaskan kerinduan pada segala jenis batuan purba—yang sudah pasti akan jarang ditemui kalau hanya berdiam di Jakarta. Perjalanan ke Ciletuh bareng suami yang kebetulan punya minat pada batuan pada akhirnya jadi pengalaman menyenangkan. "Ceracau" dia soal proses tumbukan lempeng samudera dan benua 65 juta tahun silam, yang melahirkan puluhan air terjun, hamparan bukit hijau, laut, sawah, dan sungai, memukau saya.

Entah berapa kali sepanjang jalan, saya merasa makin kerdil di semesta yang begitu luas. Pun, berapa kali pula saya bersyukur dalam hati masih diberi kaki yang kuat untuk berjalan jauh, dan privilese waktu berlimpah untuk mengagumi kemegahan dari masa lalu, yang kalau dilihat2, seperti masuk ke latar film "Jurassic Park".
Air terjun Cimarinjung./ Dokumen Pribadi
Yah, semoga penyematan embel-embel "geopark" untuk Ciletuh, bisa bikin warisan geologi ini tak bernasib sama seperti Pegunungan Kendeng Jawa Tengah, yang telanjur dieksploitasi industri semen. Pun, semoga warga setempat tak kaget lagi ketika Ciletuh naik kelas dari geopark nasional jadi internasional. Namun, di luar itu semua, kalau elf ke Ciletuh nanti sudah berbenah menjadi lebih baik, saya tak keberatan, sopir tetap meneriakkan, “Ciletuh, Ciletuh, Cile..tuh” berulang-ulang. Biar diucapkan berkali-kali seperti mantra, karena di kuping saya teriakannya seperti panggilan untuk kembali lagi ke sana suatu hari. Amiin.

Komentar