Bali, Rumah, dan Cerita Lainnya



Keluarga di Bali./ Dokumen Pribadi

“Ke mana kamu ingin menghabiskan waktu senjamu kelak?”

“Bali,” jawabmu tanpa menengok.

“Denganku?”

“Dengan siapa lagi.”

Aku tersenyum. Namun, bukan jenis senyum yang disunggingkan ketika gombalan kekasih mendarat bertubi-tubi. Ada getir yang tak bisa aku sembunyikan di sana.

Kebanyakan orang bisa jadi memilih tempat paling sunyi di bumi menjelang kematiannya. Pulau Faroe di Samudera Atlantik yang disesaki ratusan domba di atas padang rumput, laut biru, dan bau rumput basah yang disiram hujan sepanjang tahun. Yogyakarta yang selalu menjanjikan nostalgia bagi siapa pun yang ingin dipeluk kota itu. Negeri-negeri Skandinavia lain yang bersedia membayar mahal asuransi kesehatanmu. Varanasi yang menjanjikan mati dalam keabadian Sungai Gangga. Bisa pula, kembali pulang ke rumah, kota kelahiran, atau orang tua.

Opsi terakhir itulah yang bikin hatiku rawan. Aku tak pernah benar-benar memiliki rumah atau tempat pulang seperti pengertian jamak orang-orang. Hidup di keluarga disfungsional sepertiku, tentu ada harga mahal demi sekadar menebus kebahagiaan, kesunyian, dan kenyamanan terutama saat menua.

Ah, tapi siapa di dunia ini yang tak dibesarkan keluarga disfungsional. Seorang perempuan yang berkilauan di luar, terpaksa menganggap suaminya—yang mendua dengan mantan pacar—sebagai rumah, demi tiga anak. Janda tanpa anak kerap mendaku punya keluarga paling sempurna, bahkan ketika orang tuanya diam-diam kehilangan cinta. Perempuan belum menjanda mendapat kehangatan rumah justru dari sejumlah pria yang ia tiduri.

Mungkin begitu pula yang kamu alami di keluarga sekarang. Keluargamu tak baik-baik saja. Setidaknya itu yang selalu kamu bilang.

“Kelihatan sempurna dari luar, tapi keropos, nyaris busuk di dalam.”

Kamu membenci itu. Benci sekaligus rindu di sisi lain. Rindu ingin kembali ke keluarga, tapi juga enggan karena kamu yakin akan gagal jadi manusia bebas saat bersama mereka.

“Berapa tahun tak bisa bebas jadi diri sendiri?”

“Dua puluh lima. Ditambah satu setengah yang penuh siksa,” keluhmu suatu hari.

Aku paham.

Mungkin karena itu pula kamu memilih jauh dengan sadarmu. Toh, tak ada yang menghalangimu kembali, jika memang mereka tempat pulang sejatimu.

Lalu, kenapa Bali?

Aku punya satu teman yang lebih sering membenci Bali, tempat lahirnya karena ia tak menjanjikan apa-apa selain rasa sakit dan kenangan yang bikin jeri. Satu teman sisanya yang juga orang Bali, lebih suka menghabiskan waktu di tempat sumpek, Jakarta. Tapi buatmu, Bali selalu bisa jadi rumah. Tak peduli, kenangan baik dan buruk yang ia hasilkan di kotak ingatanmu.

Bahkan terakhir kali kita mengunjungi Bali berdua, niatmu untuk menetap di kota itu tak pernah surut.
Sawah di Ubud, Bali./ Dokumen Pribadi.
Tenanglah, Sayang. Setiap orang berhak untuk memilih rumahnya, keluarganya, dan tempat pulangnya. Ada yang bilang, pulang dan rumah adalah semua definisi yang kamu butuhkan untuk menemukan tahun-tahun yang hilang di hidupmu. Ada pula yang kukuh, pulang adalah detik yang berdebar dan air mata yang memburai saat kamu bertemu ibu. Ibumu, perempuan yang diam-diam menahan rindu. Ibumu yang selalu mencintaimu, entah dengan cara yang paling janggal sekalipun. Ibumu yang memintamu untuk pergi, tapi tak sungguh.

“Atau Bali cuma pelarianmu,” sanggahku curiga.

Kata-kata menyembur dari mulutmu, soal kenapa pulang ke ibu bermakna pergi yang jauh. Aku tahu, kamu terluka saat itu.

Tapi ya sudah. Barangkali cuma Bali yang mau memeluk kamu. Kita.

Toh, bagiku pun, ada banyak hal mengasyikkan yang bisa ditemukan di kota para dewa ini. Menghirup udara segar di Tabanan, dengan sawah yang menyelimuti separuh lanskapnya. Melahap buku sambil melihat bunga-bunga mekar di teras Taman Baca Kesiman. Bertemu dengan musisi rendah hati yang lagu-lagunya selalu sukses menghangatkanmu. Nasi lawar babi, yang dalam hal ini bikin perutmu hangat. Berendam di air terjun dengan kebaya dan sarung yang membalut tubuh. Belajar yoga dan melukis objek yang mungkin cuma kamu dan Tuhan saja yang tahu artinya. Macet tentu jadi persoalan lain terutama saat memilih bermukim di Kuta, Bedugul, Jimbaran. Tapi, bukankah itu harga yang setimpal untuk menikmati semua hal baik di sana.

Taman Baca Kesiman./ Dokumen Pribadi.
Jika harus mendefinisikan rumah dan pulang, biarlah itu jadi segala sesuatu yang membuatmu jadi manusia baik, manusia bebas, jadi dirimu sendiri. Kehilangan atau ter(di)paksa (pergi dari) rumah mungkin membetot segala memorimu tentang masa kecil dan masakan ibumu yang lezat. Tapi, bukankah ingatan manusia bekerja dengan cara yang kadang tak pernah kita duga? Seperti halnya kenangan baru yang bisa disimpan di kepala kita terus-menerus sesudahnya.

Untukmu, kekasihku. Dariku yang sedang giat menabung membangun rumah kita di Bali.

Komentar