Confession (2)


Identitas Baru


“Kamu ateis sekarang atau keracunan banyak buku filsafat?”

Sebuah pertanyaan di antara rentetan kebingungan serupa yang disampaikan kawan, pascamelihat perubahan saya menanggalkan jilbab. Saya cuma senyum-senyum saja dan mencoba keras untuk mafhum saat mereka sibuk bertanya.

Sejak masuk ke Madrasah Tsanawiyah—sekolah setingkat SMP—pada 2004, otomatis saya diharuskan memakai jilbab. Hari-hari berjilbab di sekolah saya lalui tanpa kritisisme berarti. Saya tak pernah bertanya, kenapa satu perempuan Islam mengenakan jilbab, sedang muslimah lain tampak santai memakai tank top dan celana pendek ke luar rumah.

Lagipula, berada di sekolah semacam itu sedikit banyak mengikis nalar saya, karena argumen yang digunakan seringkali bersifat final. Surat An-Nur ayat (31) dan Surat Al-Ahzab ayat (59) jadi beberapa referensi kenapa perkara mengulurkan jilbab bagi perempuan tak bisa lagi diganggu gugat. Kendati sebenarnya, jika ditilik dari asal-usul diturunkannya ayat tersebut, kita bisa saja menafsirkan jilbab sebagai alat untuk menghindari pelecehan di suatu kaum dalam kondisi tertentu saja, alias tak bisa disamaratakan untuk semua zaman. Makanya, ketika angka pelecehan justru meroket di beberapa negara yang mayoritas muslimah berjilbab seperti Iran dan Arab Saudi, tanpa bermaksud menyimplifikasi, saya jadi berpikir ulang soal urgensi mengenakan penutup kepala tersebut.

Bukan berarti saya menentang dan memandang nyinyir perempuan yang memutuskan untuk berjilbab, entah apa pun motivasinya. Namun, saya kurang sepakat jika jilbab selalu dikaitkan dengan kualitas keimanan seorang perempuan. Seolah mereka yang berjilbab dipandang lebih bermoral dan selalu menjaga kesucian—istilah yang di sisi lain sangat bias gender, karena laki-laki tak dituntut publik untuk menjaga kesucian serupa. Penis mereka tetap utuh, sementara selaput dara yang tak robek di vagina jadi satu standar. Sampai-sampai Satrapi dalam “Embroidery” pernah berkisah, perempuan di Iran bisa diceraikan suami hanya karena tak berdarah saat berhubungan seks di malam pertama. Dibayangi ketakutan bakal menjanda membuat perempuan Iran mengoperasi selaput dara mereka sedemikian rupa agar mampu mengeluarkan darah. Sebuah paradoks yang menyedihkan sebenarnya, karena suami yang dimaksud sudah kawin dengan banyak perempuan.

Baik, kembali ke topik. Saya punya banyak teman yang berjilbab karena menurut mereka jilbab bisa menghindarkan mereka dari perbuatan maksiat. Memang, di tengah tabiat masyarakat moralis, ungkapan “Berjilbab kok teriak-teriak, berjilbab tapi zina, ih percuma berjilbab tapi berbohong,” konon jadi alarm otomatis untuk mengontrol diri. Di suatu waktu yang lain, perempuan berjilbab menghampiri saya dan mengaku nyaris berhubungan seks dengan suami orang. Seorang teman juga mengaku sedih karena jilbabnya masih dinilai golongan perempuan lain, kurang memenuhi syariat lantaran punya corak warna semarak atau kurang panjang. Lagi-lagi usai mendengar semua cerita di atas, di titik itulah saya tak melihat kualitas diri, cara berpakaian, dan keimanan adalah hal yang saling berkelindan.



Kegelisahan-kegelisahan itu terus berjejalan di kepala saya selama bertahun-tahun. Namun, sukses saya simpan rapat. Dengan pasangan sebelumnya, jilbab yang saya pakai menurutnya adalah hal final, kendati saat masuk kamar, dia sibuk menelanjangi dan menyingkirkan penutup kepala saya itu. Tak ada diskusi berarti dengannya soal jilbab dan perempuan.

Nah, jika betul jilbab sendiri bisa menjadi alat menghindari kemaksiatan, kenapa banyak cerita yang justru kontradiktif muncul terkait itu. Saya berjilbab, tapi kadang tak salat, berbohong, memaki dengan kasar orang yang tak saya sukai. Semua saya lakukan dengan sadar. Bisa jadi, buat perempuan lain, mendandani diri dari luar dengan berjilbab lalu dengan sendiri memperbagus kualitas dalam diri adalah keniscayaan. Namun, bagi saya hal itu tak berlaku. Rasa-rasanya saya lebih senang berserah pada Tuhan dan beriman sepenuhnya dari dalam hati terlebih dulu, daripada memoles tampilan luar hanya demi dicap perempuan baik.

Seorang teman saya di S2 yang telah lama meliberalisasi diri dengan menganut poliamori pernah berujar,” Keimanan itu satu hal, tapi berjilbab adalah hal yang lain. Sama seperti salat ya salat, ngewe ya ngewe.”

Dia berkata demikian karena kesal melihat para perempuan sering dinilai cuma dari panjang pendek pakaian yang kami kenakan. Sementara, para lelaki tak pernah diberi beban di bahu mereka soal menjaga aurat, perilaku, atau kesucian. Mereka tidak disalahkan ketika kebetulan penis tegang setelah melihat perempuan cantik lalu tergoda untuk melakukan pemerkosaan. Laki-laki yang berhasil meniduri banyak perempuan dianggap jagoan, sedang perempuan dilabeli jalang. Tontonan video porno pun dibuat secara brutal agar memuaskan libido laki-laki. Sangat jarang saya menemukan video yang melucuti ekspresi atau lekuk tubuh laki-laki secara intens.

Pada akhirnya, meski kehilangan banyak alasan kenapa harus berjilbab, saya belum berani melepasnya. Tentu saja saya tak takut dengan mulut jahat orang atau mereka yang sekadar menilai tanpa mengetahui betapa panjang pergumulan yang saya alami. Saya pernah dimaki sebagai perempuan tak bermoral yang sia-sia saja mengenakan jilbab, karena berhubungan seks dengan laki-laki yang bukan suami saya. Seenaknya saja, orang-orang menyebut saya depresi karena ditinggal kabur mantan pacar yang pengecut setelah ia berjanji menikahi saya beberapa bulan lagi. Yang lebih fatal, saya dianggap tak beragama dan jauh dari Tuhan karena menanggalkan jilbab.


Saya sendiri membayangkan, kekerasan struktural dan psikologis apa saja yang dialami perempuan-perempuan hebat seperti Irshad Manji atau Marjane Satrapi, saat menolak upaya pemerintah dan mayoritas masyarakat mendomestifikasi mereka lewat aturan berjilbab. Saya membayangkan betapa sulitnya jadi perempuan Aceh yang siap dihadang hukuman cambuk jika kedapatan berzina, berkhalwat, tak mengenakan jilbab, atau pulang malam tanpa mahram. Juga perempuan di sejumlah daerah di Jawa Barat yang belakangan gencar membelakukan perda syariah.

Sampai suatu hari di tahun 2017, saya berani menanggalkan jilbab saya. Suatu keputusan yang jelas tak sembrono saya buat demi ikut-ikutan atau tanpa perenungan apa pun. Mengutip seorang teman, kepala saya ibarat sebuah rumah yang mana kebebasan atasnya saya peroleh dengan ongkos mahal. Lewat pengalaman membahagiakan dan menyakitkan, lewat bacaan dan pertemuan, lewat kegagalan dan keberhasilan, lewat semua pencarian panjang. Jadi saya tak akan membiarkan, mereka sibuk mondar-mandir di rumah saya lalu berak sembarangan atau bicara bisik-bisik dan menyuruh saya diam demi menuruti standar mereka.

Nah, tapi sayangnya, momentum lepas jilbab yang berbarengan dengan berbagai peristiwa seperti sakit-sakitan, ditinggal kabur seorang pecundang, dituduh perusak hubungan orang dan perempuan bejat, atau hal-hal yang bagi kebanyakan orang tak sesuai pakem mereka, membuat semua alasan yang saya lontarkan dianggap sebagai alibi yang dibuat-buat saja.

Namun, sekali lagi, bagi saya yang percaya bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil alamin, dan selama berjilbab atau tak berjilbab masih jadi alasan untuk menjustifikasi perempuan, saya bangga telah melepas jilbab ini.

Baca juga tulisan lain: "Confession (1)".






Komentar