Petualangan Menyusuri Jalan “Liar” Trans Flores


Jalanan berkabut sepanjang Ende./ Dokumen Pribadi

Bagi pengelana berkantung cekak seperti saya, tentu harus ada yang dipikirkan masak-masak saat memutuskan keliling berbagai pulau di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkenal mahal. Ada sejumlah pulau yang saya datangi di pulau penghasil gadis-gadis eksotis ini. Selain Sumba, Flores jelas jadi salah satu prioritas. Sebenarnya untuk mencapai pulau satu dengan lainnya, ada transportasi udara, tapi lagi-lagi agar keuangan selamat sampai sebulan berpetualang, saya dan pasangan memutuskan untuk menggunakan jalur darat dan laut.

Dari Sumba ke Flores, saya naik kapal Pelni besar, KM Awu. Ongkosnya tak sampai Rp100 ribu, dan ditempuh dalam sehari saja menuju Ende, pemberhentian Pulau Flores paling dekat dengan Pelabuhan Waingapu di Sumba Timur. Sesampainya di Ende, saya sudah mengangankan untuk menyambangi seluruh kota di pulau ini. Maumere, Bajawa yang terkenal dengan kopinya yang enak, Ruteng, Aimere, Borong, sampai ke Labuan Bajo.

Sebenarnya untuk sampai di beberapa kota terkenal seperti Labuan Bajo, Ruteng, Maumere, Larantuka, dan Bajawa, ada maskapai penerbangan khusus yang membuka layanan. Namun, jangan dikira jadwalnya bisa diprediksi seperti di Jawa. Kondisi cuaca yang kerap berkabut di Ruteng atau Bajawa misalnya, membuat berbagai pesawat terpaksa urung terbang menjangkau bandara Soai dan Frans Sales Lega. Akhirnya, rute darat pun menjadi pilihan yang paling masuk akal, dan tentu saja murah.

Jalur Trans Flores sendiri membentang sepanjang 664 kilometer dengan kondisi trek yang berbahaya lantaran rawan longsor dan tikungan tajam di mana-mana. Saya dan pasangan memilih mengeksplorasi Flores dengan menumpang mobil angkutan umum berjenis SUV berkapasitas maksimal delapan orang. Namun, bukan nyali Flores namanya jika hanya mengangkut delapan orang saja. Saya menghitung, ada sebelas orang yang diangkut, belum termasuk dua bayi dalam pangkuan ibu-ibu di jok tengah.

Terhimpit seperti ikan teri tentu bukan satu-satunya penderitaan, eh tantangan maksudnya. Saya pernah naik mobil di jalanan Medan, Simalungun, dan Pematang Siantar di Sumatera Utara dengan sopir ugal-ugalan. Namun, tak ada yang bisa mengalahkan sopir di Flores. Menyetir dengan satu tangan, sedang tangan lainnya sibuk memegang rokok. Ia sengaja membuka semua kaca mobil agar udara bisa masuk bebas, tanpa harus terganggu aroma kentut sembarangan dari penumpang. Untung selera musik sopir ini cukup lumayan. Tak hanya Sorowea, ia kadang memutar lagu-lagu lawas dari Scorpions, Deep Purple, atau Led Zeppelin.

Namun, tetap saja, saya menggigil di jok depan, karena udara memang sedang dingin-dinginnya. Di kanan kiri jalan Trans Flores yang sempit ini, tebing tinggi, pantai, bukit, dan jurang jadi pemandangan yang ngeri-ngeri sedap. Karakter jalan yang berpotensi longsor saat musim hujan ditambah kondisi jalan berlubang, membuat perjalanan Ende-Maumere sempat tersendat. Jalan di Bajawa pun demikian horor. Bahkan, tim ekspedisi Navara Kompas pernah menjuluki rute ini keriting seperti meteran gempa, dengan tanjakan, turunan, serta belokan tajam sepanjang 185 kilometer. Tapi, sopir kami santai-santai saja tuh mengendarai mobil ini. Ia bahkan mengajak saya bernyanyi di depan, karena melihat saya masih terjaga. Padahal, saya sudah mual ingin muntah saat itu.

Perjalanan panjang ini harus berhenti sejenak di Ruteng, kota gerbang Wae Rebo sekaligus pemasok air minum terkenal di Flores. Kami sempat membeli minum dan makan seadanya. Sayang, kami tak bisa mampir di Wae Rebo, karena cuaca diselimuti kabut tebal parah. Ruteng lebih ramai dibanding kota-kota lain yang kami singgahi. Berbagai toko, hotel, dan rumah makan berjajar di pusat kota. Satu dua turis asing pun mulai terlihat.

“Rute Ruteng-Labuan Bajo jauh lebih ekstrem. Apalagi sedang kabut begini,” ujar sopir pada saya, sebelum melanjutkan perjalanan.

Saya langsung melirik pasangan saya yang tampaknya sudah pasrah. Ini barangkali adalah perjalanan paling gila kami setelah menikah. Naik kapal besar dari Surabaya ke NTT, mengendarai motor bersama di sepanjang jalanan yang rusak di Sumba, dan terakhir menumpang mobil rock ‘n roll dari pemuda Flores.

Bertengkar dengannya selama di NTT teramat sering, karena kondisi perjalanan panjang ini memang rentan membuat kami lelah dan emosi. Beruntung, setelah bertengkar, biasanya kami cenderung lebih mesra. Apalagi, bentang alam NTT yang menawan dan cuaca dingin membuat sadar, kami memang tengah dimabuk cinta. Namanya cinta, mengutip Sasha Sloan tentu tak mudah. Kami hanya berusaha keras untuk tak saling menyakiti, dan ya, kami beruntung pada akhirnya karena berhasil mencapai ujung Trans Flores di Labuan Bajo. Kota yang menjadi pintu masuk pulau mashur, rumah bagi hewan purba komodo.

To be continue..


Komentar