Ende dan Penemuan akan Indonesia


Pantai Bajawa atau Blue Stone Beach terkenal dengan deretan batu birunya yang indah./ Dokumen Pribadi

Sesaat sebelum kapal yang saya tumpangi dari Pelabuhan Waingapu, Sumba Timur mendarat di dermaga Ende, imajinasi saya terlempar pada peristiwa Februari 1934. Saat di mana kapal yang membawa Soekarno, Inggit, anak angkat, dan mertuanya berlabuh di kota yang sebagian besar masyarakatnya masih buta huruf. Soekarno bisa jadi datang dalam kondisi hati yang patah. Bagaimana tidak, belum lepas ingatannya soal kerangkeng Sukamiskin, ia harus menghadapi penjara dalam wujud lain.

Selain warganya yang masih “terbelakang” dalam aksara, Ende adalah pembatas Soekarno untuk bisa berkomunikasi dengan rekan seperjuangan di Jawa. Jarak Ende ke Jakarta sekitar 2.270 kilometer, yang kala itu paling mungkin ditempuh dengan kapal saja. Kota yang hampir selalu berkabut ini sangat sepi. Tak ada perpustakaan, bioskop, telegraf, surat-menyurat cuma bisa sebulan sekali dengan kapal pos. Buat sosok yang tak bisa diam seperti Soekarno, kondisi ini jelas menyiksa.

Rumah pengasingan Soekarno di Ende, Flores, NTT. Kini dijadikan museum./ Dokumen Pribadi

Sempat depresi, tapi akhirnya dari Ende, Soekarno justru paham soal pluralisme dan ke-Indonesia-an. Dia bergaul dengan anak-anak, sopir, nelayan, penjahit, pemetik kelapa, hingga pastur. Di kota ini pula, gagasan Indonesia merdeka dan butir Pancasila disemai, pun dua belas naskah sandiwara tercipta dari tangannya. Ini bukan sekadar tempat pengasingan. Ini adalah sekolah politik dan budaya Soekarno untuk menjadi Indonesia. Ia mengenal Indonesia seluas-luasnya, tak hanya Jawa tapi juga orang Indonesia Timur. Pada akhirnya, Ende menjadi kota yang sarat romantisme bagi sahabat Che Guevara tersebut.

Ende yang sekarang saya sambangi memang banyak bersolek dibanding berdekade-dekade lalu. Namun, saya merasa, romantisme yang dirasakan Soekarno bisa saya hayati betul saat ini. Saya bertemu banyak orang dan berbincang bersama, dari bocah sampai orang tua. Dari mereka, saya belajar, tak cuma soal kesederhanaan, tapi juga kemurnian, kejujuran, dan kepercayaan. Bayangkan saja, baru sekali ini saya menyewa kendaraan di Ende dan pemiliknya bahkan tak menanyakan nama atau meminta jaminan identitas saya. Padahal, bisa saja saya nekat menjualnya kalau kantung sedang tipis. Mereka percaya begitu saja.

Contoh lain saat saya menyambangi Pantai Bajawa, pantai dengan tumpukan batu biru yang indah, seorang pria gaek menghampiri dan menjabat tangan saya hangat. Saya tak kenal dia, tapi baginya, semua orang yang datang ke Ende adalah saudara. Dia memperkenalkan diri.

“Anak, nama saya Ibrahim,” tuturnya dengan senyum ramah.

Ibrahim, warga Muslim Ende yang tinggal di pesisir Pantai Bajawa./ Dokumen Pribadi

Ia lantas suka cita mendongeng soal Ende, yang kendati didominasi masyarakat Nasrani, tapi sangat toleran dengan Muslim seperti dirinya. Mereka hidup rukun berdampingan. Bahkan, masjid dan gereja bisa saja sengaja dibangun berdekatan di kota ini. Seketika, pertikaian yang kerap terjadi mengatasnamakan agama di Jawa membuat saya merasa malu pada nelayan tersebut.

Keramahan masyarakat Ende, toleransi yang dijunjung tinggi, makin sempurna didukung dengan alamnya yang indah. Di Ende, ada banyak sekali pantai menawan. Selain Bajawa, ada Pantai Batu Cincin, Ena Bara Maurole, Mbu’u, dan tentu saja salah satu tempat paling magis di muka bumi: Danau Kelimutu.



Danau tiga warna Kelimutu./ Dokumen Pribadi

Cuaca di Ende juga relatif dingin. Saya membayangkan duduk di bawah pohon sukun rimbun, sambil menatap langit biru. Sementara dari kejauhan, anak-anak bermain hingga tawanya terdengar bak tembang dolanan yang riang. Seperti Soekarno yang dalam sendiri di Ende, mengangankan cita-cita kemerdekaan di tempat yang kini dinamai jadi Taman Renungan Soekarno. Aih, romantis sekali.

Memang betul, Ende dan mungkin daerah lain di timur itu yang indah bukan hanya bentang alamnya, tapi juga orang-orangnya, anak-anaknya. Dari mereka, saya tak hanya belajar tentang Indonesia, tapi juga masa depan.


Komentar