Dua Hari di Labuan Bajo



Long Island Beach, salah satu pulau yang diincar oleh para wisatawan untuk disambangi./ Dokumen Pribadi 
Nyaris tengah malam kami baru sampai di penginapan yang sudah dipesan sebelumnya lewat aplikasi daring. Mestinya, menginap di sini banyak keuntungan. Pasalnya, letak hotel—sesuai peta—relatif dekat dengan pelabuhan penyeberangan ke Pulau Komodo, cukup berjalan kaki satu kilometer. Sepanjang jalan dari hotel menuju pelabuhan pun, sederet minimarket, bar, restoran, warung, hingga café Starbucks sangat mudah ditemui. Saya sudah semangat membayangkan perjalanan menyenangkan yang akan kami alami keesokan hari: mengunjungi tempat-tempat menawan, mampir ke bar sambil larut dalam hiruk pikuk malam, atau sekadar makan ikan bakar sembari berbincang dengan para penjual di wisata kuliner Kampung Ujung.

Dengan semangat, saya bergegas menyeret tas menuju resepsionis. Maksud hati ingin check in, tapi oleh empunya hotel, kami diminta membayar ongkos tambahan satu malam. Alasannya, kami tiba di hotel terlalu dini. Enggan berdebat karena lelah berkendara belasan jam dari Ende, kami mengalah.

“Siap-siap ya. Membayar biaya tambahan untuk hotel bisa jadi cuma satu kejutan kecil,” ungkap saya pada suami yang menyusul di belakang dengan keril di punggungnya.

Dugaan saya benar. Di balik gempita Labuan Bajo, ada harga yang harus dibayar untuk pelancong dana pas-pasan seperti saya. Di sini, semua hal bernilai uang, apa-apa mahal. Bahkan harga satu porsi mi ayam versi warung bisa lebih dari Rp20.000. Jangan tanyakan harga minuman alkohol. Hanya di Labuan Bajo, saya cuma memandang nanar botol-botol wine yang ketimpangan harganya mirip seperti gap si kaya dan miskin di rimba Jakarta.



Beberapa potret senja di Labuan Bajo, NTT./ Dokumen Pribadi
Lantaran serba mahal, saya dan suami memutuskan untuk tak tinggal terlalu lama di daerah yang belakangan dijejali turis asing ini. Dua hari saja saya di Labuan Bajo. Dua hari itu saya isi dengan kegiatan di luar ruangan, berjalan kaki jauh mencari kuliner terbaik di Bajo serta berlayar mengunjungi pulau-pulau mashur dari Padar, Rinca, sampai Long Island Beach. Kami ikut dalam rombongan asing (kebanyakan bule) menyewa sebuah kapal motor untuk hopping seharian penuh. Ongkos berlayar saban orang ditagih Rp500.000, belum termasuk tip dan tiket masuk ke wisata berbayar. Saya tak tahu, nilai demikian murah atau mahal, tapi dengan suguhan pemandangan indah di pulau-pulau tujuan, rasa-rasanya cukup sepadan.

Meski dipatok dengan harga mahal, saya tak melihat warga setempat cukup siap menghadapi perubahan kondisi di Bajo. Berbagai potensi wisata tampak belum digarap maksimal. Misalnya, deretan restoran dan penginapan yang saya lihat, mayoritas tak dikelola oleh warga lokal. Demikian halnya dengan pasokan daging, buah, dan sayur di hotel yang justru didatangkan dari daerah-daerah seperti Bali, Sulawesi Selatan, atau Nusa Tenggara Barat. Jika kamu makan di restoran atau Kampung Ujung, bisa jadi mereka yang menjual ikan atau udang bukan warga asli Bajo.

 Beberapa ekor komodo yang tersisa di Pulau Rinca./ Dokumen Pribadi

 Long Island Beach, salah satu pantai berpasir merah muda selain Pink Beach./ Dokumen Pribadi


Apa pasal? Pemerintah memang dalam hal ini justru lebih banyak membentangkan karpet merah pada investor asing. Tanah-tanah di sepanjang pesisir pantai yang strategis kebanyakan telah diborong oleh mereka. Perkampungan nelayan dan kebun disulap jadi hotel, restoran, bar, hingga kantor agen perjalanan wisata antarpulau dan pusat informasi turis. Kemana perginya para nelayan dan petani dekat pantai yang menjual tanahnya ini? Mereka yang gagal memanfaatkan uang penjualan lahan untuk usaha produktif, umumnya bakal menyingkir ke pegunungan untuk berkebun. Bajo ramai dan makmur, tapi bukan dirasakan oleh warga setempat melainkan investor asing yang bisnisnya bercokol di sini.

Saya sendiri mendatangi Bajo dalam rangka meyelesaikan misi mengelilingi Nusa Tenggara Timur pasca-kawin. Berada di Sumba, Ende, dan singgah ke kota-kota kecil sepanjang Pulau Flores membuat saya percaya diri bahwa berwisata di timur tak melulu mahal. Banyak orang baik yang tulus membantu kami sebelumnya. Namun, Bajo terasa berbeda. Apalagi ketika semua hal dinilai dengan uang. Ah, wajar saja, lha wong yang menempati wisata Bajo bukan warga asli. Saya kemudian mafhum.

Terhimpit Problem Baru
Sejak Pulau Komodo ditahbiskan sebagai salah satu keajaiban baru dunia, jumlah wisatawan memang meroket. Apalagi saat dimunculkan program Sail Komodo pada 2013 silam. Tak hanya mengunjungi habitat komodo di pulau-pulau seperti Rinca atau Komodo, wisatawan umumnya bermimpi bisa naik bukit tinggi di Pulau Padar guna menikmati lanskap teluk indah dari ketinggian. Aktivitas menyelam atau snorkeling di pulau-pulau kecil, pun bermain di pantai pasir jambon juga jadi dambaan mayoritas orang yang ingin bertandang ke sini.

Pulau Padar, tempat kita menyaksikan tiga teluk pantai dari ketinggian./ Dokumen Pribadi

Namun, keramaian yang mendadak menyelimuti Labuan Bajo justru menimbulkan sejumlah problem baru. Menggunungnya sampah yang tak dibarengi dengan pengolahan dan tempat pembuangan akhir memadai jelas satu persoalan. Kalau kamu datang ke beberapa kampung wisata di sepanjang pelabuhan seperti Kampung Air, mudah sekali menemukan sampah yang teronggok, menumpuk di sejumlah titik.

Belum masalah perputaran uang yang justru lebih banyak dinikmati oleh investor asing. Saya sempat membaca liputan Kompas yang mewawancarai nahkoda kapal setempat. Menurut nahkoda itu, beberapa pulau indah di Bajo diserahkan pemerintah pada pihak asing untuk dikelola. Pulau Kanawa contohnya, dimiliki penuh oleh dua warga Spanyol dan Italia. Pulau Bidadari dibeli warga Inggris. Lalu Pulau Sebayur milik warga Italia.

Lantas, apa yang tersisa dimiliki warga lokal di sini? Ya itu tadi, sampah yang menggunung dan kebun-kebun di perbukitan yang jauh dari keramaian. Bagi mereka yang bertahan di areal lokasi, sejumlah pekerjaan kasar seperti ojek atau berjualan makanan kecil-kecilan di pinggir jalan masih bisa dijumpai. Namun, manakah yang lebih dipilih wisatawan, jajan kopi di pinggir jalan berdebu atau Cafe Starbucks yang berdiri gagah di depannya?



Beberapa pemandangan yang memanjakan mata di Labuan Bajo./ Dokumen Pribadi

Komentar