Cintaku Tak Semahal Harga Kudamu


Ilustrasi pernikahan adat Sumba./ Dokumen Pribadi

Waktu menikah dengan kekasih saya beberapa bulan lalu, saya tak ambil pusing soal berapa banyak mahar yang ia persembahkan. Meskipun, saat itu, saya meminta sejumlah buku favorit dari penulis Haruki Murakami, Yuval Noah, Chuck Palahniuk, Virginia Woolf, dan lainnya (banyak juga ya. Hehe). Jika saya orang Sumba, saya yakin kekasih akan jauh lebih bingung, bagaimana caranya bisa meminang saya. Dalam hal ini, ia beruntung dapat perempuan Jawa dengan orang tua moderat dan tak menuntut apa pun, termasuk segala adat perkawinan yang membayangkan saja sudah bikin perut saya mulas.

Namun, bagi orang Sumba, menikah adalah kenikmatan sekaligus momok yang entah bagaimana harus disikapi. Dua orang kawan saya, dua-duanya bernama Umbu, laki-laki asli Sumba berkisah panjang lebar pada saya soal tradisi belis atau pemberian mahar yang nilainya mungkin melebihi gaji saya bekerja freelance seumur hidup. Jika seorang laki-laki Sumba jatuh cinta pada perempuan setempat, maka ia sudah harus mengetatkan ikat pinggangnya demi bisa menikahi gadis pujaan.

Mungkin, lantaran terlalu menghayati tradisi belis atau hendak curhat colongan soal perkawinan, Umbu teman saya itu bahkan mengangkat ini sebagai judul skripsinya di kampus Bali. Sementara, Umbu sisanya, yang mengaku sempat dijodohkan dengan perempuan asli Sumba yang masih bertalian saudara dengannya pun, perlu berpikir berulang kali untuk menganggap perjodohan itu secara serius.

“Mahal,” keluhnya pada saya di suatu malam.

Umbu yang dijodohkan, sebut saja Umbu A, sebenarnya adalah percampuran bibit Dayak Kalimantan dan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tak heran jika ia punya wajah bersih sedikit oriental khas orang Dayak, tapi juga bentuk wajah dan rahang tajam seperti orang Sumba. Karena dilahirkan dari orang tua yang berbeda suku, ditambah hijrah ke Jakarta memulai debut jadi artis televisi, mungkin ia jadi tak terlalu pusing mewajibkan diri harus menikah dengan orang Sumba atau bukan. Meskipun, seringkali ia bercerita, “Padahal perempuan Sumba itu cantik-cantik lho.”

Berbeda dengan Umbu A, Umbu B yang bertahun-tahun tinggal di Bali tapi selepas lulus memilih bermukim di kampung asalnya, tentu punya banyak pertimbangan untuk mempertahankan garis keturunan raja dengan cara menikahi perempuan Sumba pula. Makanya, saya curiga skripsi yang ia tulis selama berbulan-bulan di tengah kondisinya yang sakit habis kecelakaan itu adalah sebentuk curahan hati terdalam.

Ilustrasi pernikahan adat Sumba./ Dokumen Pribadi

Nah, kembali lagi ke persoalan belis dalam tradisi perkawinan Sumba, sebenarnya ada beberapa hal menarik yang bisa diceritakan dalam tulisan pendek ini.

Belis artinya mahar yang diserahkan laki-laki dan pihak keluarga laki-laki kepada calon istrinya. Belis lambat laun menjelma sebagai prestise, prestasi, dan status. Acap kali ketika laki-laki dan perempuan Sumba jatuh cinta dan hendak menikah, maka diskusi paling awal antarkeluarga hanya akan berkutat di berapa ekor hewan yang akan diberi pada pihak perempuan. Diskusi ini bisa jadi tak berjalan mulus. Maka, cinta adalah hal kedua yang bisa kandas begitu saja, jika tak tercapai konsensus dalam negosiasi belis.

Semakin tinggi level pendidikan perempuan, status sosial, dan pangkat, maka belis yang diberikan akan kian besar. Belis yang diberikan pada mereka yang berasal dari kasta bangsawan pun bakal lebih tinggi ketimbang kelas hamba. Tak tanggung-tanggung, kadang laki-laki harus menyiapkan ratusan kuda atau kerbau yang jika dikonversi ke rupiah, nilainya bisa setara dengan setengah miliar. Ini belum termasuk dengan berpasang-pasang kain sarung dan babi, juga barang bawaan peralatan rumah seperti tempat tidur, lemari, kursi meja, dan lainnya.

Berat memang menjadi laki-laki Sumba. Namun, menurut Umbu B, jika nilai belis yang disepakati jauh di atas kemampuan pihak laki-laki, maka bisa dicicil pembayarannya. Berapa lama? Bisa sampai seumur hidup, hingga jadi kakek nenek.

Adakah belis merendahkan martabat perempuan?
Ilustrasi pernikahan adat Sumba./ Dokumen Pribadi

Saya memang bukan orang Sumba. Namun, menyimak cerita dua Umbu tersebut, saya jadi punya penilaian sendiri soal perkawinan mahal. Belis, seperti halnya sinamot di tradisi Batak atau uang panai dalam masyarakat Bugis, mulanya saya anggap sebagai suatu praktik yang tak membawa faedah apa pun kecuali makin suburnya tradisi patriarkal. Bagaimana tidak, untuk menikah saja, kamu harus mengeluarkan uang hingga ratusan juta cuma untuk mahar, belum termasuk uang resepsi dan adat perkawinan. Bagi saya yang berpikiran sederhana, hal semacam itu pada awalnya jelas berlawanan dengan hati kecil. Sementara, bagi perempuan, ah, rasa-rasanya mahar mahal ini kok hanya menjadikan mereka sebagai objek transaksi jual beli.

Namun, setelah banyak berbaur dengan masyarakat Sumba termasuk dua Umbu ini, saya berpendapat, belis adalah seperangkat budaya yang berjalan dengan nilai inheren mereka sendiri. Mengamini Clifford Geertz soal budaya sebagai simbol-simbol yang diwariskan secara historis, yang sangat bergantung pada komunikasi dan dinamika pengetahuan mereka, maka dakwaan saya bahwa budaya belis adalah bentuk pelecehan jadi terlalu gegabah.

Sama gegabahnya seperti yang dilakukan gereja di Sumba dan pemerintah lokal yang pernah membatasi belis maksimal sebanyak lima ekor hewan. Padahal, tradisi belis yang mereka anut lama, setua umur Marapu itu adalah ekspresi jiwa  yang rasa-rasanya kurang adil jika kita atur atau batasi. Jika ingin mengubah simpul adat ini dengan pendidikan pun, bisa jadi kita butuh waktu panjang, terutama jika berkaitan dengan nilai inheren dalam kepribadian masyarakat.

Soal posisi perempuan, saya sempat berbincang dengan beberapa perempuan Sumba secara acak yang saya temui, dari yang berpendidikan relatif tinggi maupun yang tidak sekolah. Mayoritas dari mereka berujar, belis tak otomatis menjadikan perempuan sebagai bagian transaksi bisnis dua keluarga, tapi justru bentuk penghormatan terhadap perempuan. Belis adalah wujud terima kasih laki-laki pada pihak keluarga perempuan yang telah membesarkan dan mendidik anak perempuan.

Mungkin ini mirip seperti gombalan remaja tanggung yang saya dengar tempo hari di kereta, “Neng, Abang mau datang ke Mama kamu ya. Mau bilang makasih karena sudah melahirkan dan membesarkan bidadari seperti kamu.”

Jadi, kalau dilihat dari posisinya, belis ini sebenarnya lebih berfungsi sebagai simbol, bukan sebuah harga. Dengan pemahaman begini, saya kira kita jadi punya persepsi yang lebih beradab dalam memandang tradisi perkawinan Sumba.

Lantas, adakah opsi lain untuk menikah di luar adat Sumba? Saya kira ada, tapi mari kita tanya pada dua Umbu teman saya ini, mau atau tidak? Sebab, katanya sih jika tak mengikuti adat yang berlaku, ada kemalangan atau pamali yang menunggu di tikungan jalan. Entahlah.

Komentar