Antara Sirih Pinang, Marapu, dan Gereja



Sirih dan pinang yang banyak dijual di pasar tradisional Sumba./ Dokumen Pribadi

Mama Intan menyodorkan besek berisi sirih pinang untuk saya, saat pertama kali saya sampai di rumahnya di Rende, Umalulu, Sumba Timur. Kata dia, sirih pinang adalah hidangan wajib pertama bagi semua tamu yang berkunjung, disusul dengan pemberian kopi, dan makan besar. Saya menyantap sirih dengan agak ragu. Bagi saya yang orang Jawa, sirih pinang cuma saya kenal sebagai “cemilan” mendiang nenek buyut. Tujuannya, agar bibir bisa merekah merah, kendati tak disentuh gincu. Sirih juga dalam tradisi Jawa sering jadi properti adat pernikahan dalam prosesi “balangan suruh”, sebuah simbol bagi kedua mempelai saling melempar kasih dan harapan.

Namun, bagi orang Sumba seperti Mama Intan, sirih pinang lebih dari sekadar tradisi, seperti halnya memberi salam persahabatan dengan saling menyentuhkan hidung. Sirih pinang adalah simbol identitas sebagai orang Sumba dengan agama Marapu mereka yang tersohor itu. Tak heran, jika sirih pinang hampir selalu ada di seluruh upacara adat dan keagamaan, termasuk pernikahan, kematian, kelahiran, dan sebagainya. Jika mampir ke pasar-pasar tradisional Sumba pun, biasanya ada deretan lapak yang khusus menjual dua benda ini.

Sejak usia 17 tahun, baik laki-laki maupun perempuan di Sumba sudah mengunyah buah pinang muda yang masih segar. Ini berbeda dengan tradisi mengunyah sirih pinang masyarakat Batak yang hanya mengambil daun sirih, bukan buahnya, dan mesti dicampur dengan pinang yang dikuliti lalu dikeringkan.

Saya sendiri akhirnya mengunyah sirih pinang pemberian Mama Intan. Rasanya pahit bercampur pedas. Seketika mulut dan air liur saya memerah usai mengunyah sirih pinang. Air liur yang memerah ini pantang ditelan, kecuali jika Anda ingin mabuk, pusing, dan sempoyongan. Memang, sirih pinang bagi orang yang tak terbiasa mengonsumsinya, bisa berefek seperti ketika kita meminum alkohol, jantung berdetak tak beraturan, tubuh bekeringat, wajah memerah, mirip gejala mabuk.

Namun, bagi orang asli Sumba, sirih pinang adalah kenikmatan hakiki, seperti halnya menghisap rokok kretek atau menyesap kopi. Saking pentingnya keberadaan sirih pinang, maka jika ada tuan rumah yang kebetulan sedang kehabisan dua benda ini tapi kedatangan tamu, mereka akan berujar “Nduhappa.” Artinya, “Kami tak bisa mengajak mampir karena tak ada sirih pinang.”

Sirih pinang yang kerap dimaknai sebagai alat keakraban, ternyata punya makna yang lebih filosofis. Dikisahkan dalam sejarah tradisi Marapu, sirih pinang menjadi simbol hidung dan mata salah satu dewa yang dikorban untuk mengusir rasa lapar tujuh kakaknya lantaran kehabisan bekal. Sang pencipta lantas menjadikan sisa daging dewa tersebut sebagai tumbuh-tumbuhan dan binatang. 'Daging'nya jadi padi, darah jadi jewawut, gigi jadi jagung, ruas jari jadi kacang, tangan jadi ubi kayu, kepala jadi ubi manusia dan kelapa. Sementara, 'hidung' jadi sirih, dan 'mata' jadi pinang.

Hubungan Sirih Pinang dan Marapu
Seperti yang saya utarakan sebelumnya, sirih dan pinang kerap jadi simbol dalam semua tradisi penganut Marapu di Sumba. Marapu adalah sebuah agama atau kepercayaan lokal di Sumba, yang menitikberatkan pada pemujaan terhadap arwah-arwah leluhur. Marapu sendiri secara etimologis berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Jauh sebelum ada pengakuan atas keberagaman kepercayaan lokal, dan saat agama yang sah hanya lima, Marapu menjadi pembatas warga Sumba untuk mengakses pendidikan atau pekerjaan formal. Saya ingat, sebuah artikel di CNN yang menulis soal perempuan Sumba Barat, Yuliana yang terpaksa mengaku sebagai Kristen karena pernah diusir gurunya saat mengaku beragama Marapu.

Bentuk marjinalisasi atas penganut Marapu ini akhirnya membuat mereka terpaksa mengkristenkan diri, pergi ke gereja, dan memakai nama-nama Nasrani agar bisa lebih leluasa. Meski begitu, mereka tetap menjadikan Marapu sebagai kompas hidup, termasuk dalam urusan perkawinan yang sebagian besar mengadopsi cara-cara Marapu: disaksikan kepala suku dan menggunakan belise atau mahar puluhan bahkan ratusan kuda. Mereka juga tetap teguh melangsungkan adat wulla poddu atau menghindari semua pantangan di bulan suci dan pasola yang dilakukan dengan perang adat damai.

Mama Intan, salah satu keturunan raja yang masih tersisa di Rende, Sumba Timur./ Dokumen Pribadi

Orang seperti Mama Intan, bahkan tetap bertahan tinggal di rumah adat Rende, bersisian dengan makam moyang-moyang mereka di nisan megalithikum. Satu rumah besar itu menurut Mama Intan, bisa dihuni oleh 30 keluarga lebih. Mereka hidup dengan sederhana dan bersama-sama. Makan bersama, tidur bersama, berbincang bersama, bahkan mengunyah sirih pinang pun bersama. Di KTP, mereka memang tercatat beragama Kristen, tapi faktanya mereka lebih sering melangsungkan tradisi yang berhubungan dengan kepercayaan Marapu ketimbang pergi ke gereja saban Minggu.

Misalnya, tradisi yang mereka pegang teguh adalah menguburkan mayat keluarga dalam upacara adat besar-besaran. Untuk mengumpulkan modal upacara adat, tak jarang mereka harus menyimpan mayat mendiang keluarga di rumah selama belasan bahkan puluhan tahun. Mayat-mayat ini didudukkan seperti posisi bayi dalam janin, di tengah ruangan rumah. Lalu ditutup dengan berlembar-lembar kain tenun Sumba. Makin terhormat dan berpengaruh, maka makin banyak kain tenun yang menutupi badan mereka.

Jika Marapu diam-diam tetap menjelma sebagai identitas kerohanian mereka, lantas bagaimana dengan sirih pinang? Saya berbincang dengan Mama Intan soal ini. Menurutnya, Marapu dan sirih pinang adalah hal yang tak bisa dipisahkan. Kalau Marapu harus kamu tutup rapat agar kamu bisa diterima dalam urusan administrasi kenegaraan, mulai dari mengurus legalitas perkawinan sampai akta kelahiran. Maka sirih pinang adalah identitas Sumba yang bisa kamu buka terang-terangan tanpa takut dimarjinalisasi.

Komentar