Wong Kar Wai Adalah Soal Patah Hati dan Ogah Move On


Bagian favorit dari "Chungking Express adalah saat Faye Wong sibuk menari dan asyik menerawang sambil makan. Mau niru scene tersebut, tapi sayang di stasiun ini bawa makanan dilarang./ Ridlo Qolbee

Georgia Ray, psikolog dari Hope Psychological Services, Australia yang kerap dikutip koran New York Post menyebut, manusia cenderung menyukai rasa sakit. Alasannya, setelah kesakitan, orang akan menemukan euforia intens yang tak ditemukan lewat cara lain. Misalnya, orang kebelet kurus lalu obsesi pada diet yang berlebihan, aktivitas ngegym guna membentuk badan jadi sekekar Vin Diesel sebelum foto perut buncitnya beredar pada 2015, masokisme saat berhubungan seks, bahkan dalam urusan cinta dan patah hati.

Cara termudah jika Anda menyukai rasa sakit ada dua, yakni dengan menyandera diri pada ingatan masa lalu serta membiarkan orang asing datang ke hidup Anda, mengobrak-abrik hati, dan membuat Anda jadi orang paling ceroboh plus menyedihkan sedunia.

Ikhwal ingatan, siapa sih yang benar-benar profesional hingga bisa membuat semua memori (khususnya memori buruk) lenyap sesuai yang kita inginkan? Rasa-rasanya tak ada yang begitu, kecuali bagi para pengidap short term memory loss seperti di film “50 First Dates” atau “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”. Tentu senang sekali membayangkan kita bisa bercinta dengan pasangan seolah itu baru pertama dilakukan, atau tertawa riang bareng teman sambil minum alkohol di bar sehari pasca-putus (cinta).

Namun, cara kerja ingatan tak seperti itu. Di salah satu magnum opus sutradara Wong Kar Wai, “Chungking Express” (1994), He Zhiwu (Takeshi Kaneshiro) justru ingin agar ingatan bisa terus kekal, seperti gagasan cintanya yang ia kira bisa abadi pada May, mantan kekasih. Untuk memelihara ingatan dan cintanya, ia terus menelepon keluarga dan teman May tiap hari. Kenangannya pada mantan yang gemar makan nanas pun dirawat dengan jalan membeli berkaleng-kaleng nanas di minimarket. Ia sengaja memilih kemasan yang kadaluarsa tanggal 1 Mei, sesuai tanggal ulang tahunnya. Zhiwu dan May putus tepat pada 1 April. Pikir Zhiwu, jika sampai 1 Mei May tetap tak mengabarinya, usai ratusan telepon didaratkan, itu berarti cintanya sudah kadaluarsa. Cinta mungkin bisa kadaluarsa, tapi bagaimana dengan ingatan itu sendiri?

Di “Ashes of Time” (1994), film yang digadang-gadang menjadi usaha Kar Wai menghidupkan kembali cerita Pendekar Rajawali, ingatan adalah awal, tengah, dan akhir cerita. Hampir semua tokohnya tersandera pada ingatan masa lalu dan hidup dalam dunia distopia. Mereka menolak perubahan, pembaruan, dan menganggap hal-hal yang dialami di masa kini adalah versi lain kejadian dari masa lalu.

Bagian paling menyakitkan sekaligus menyenangkan dari memelihara ingatan masa lalu, mungkin bisa dilihat di “In the Mood for Love” (2000). Tak usah ngomong ndakik-ndakik soal menolak lupa atau sok mengajari dua tokoh utama Mrs. Chan (Maggie Cheung) dan Mr. Chow (Tony Leung) soal merawat ingatan. Bahkan, setelah diselingkuhi oleh masing-masing pasangan pun, mereka enggan balas dendam, meski kesempatan itu terbuka lebar di apartemen mereka. Mereka bertahan dan mengatasi kenangan yang berseliweran di kepala dengan jalan menyusun gagasan soal cinta yang membahagiakan sekaligus depresif.

“In the Mood for Love” dan barangkali seluruh film Kar Wai adalah soal bagaimana tokoh-tokohnya terjebak dalam petaka ruang dan waktu yang bertubrukan. Bertemu dengan orang di waktu yang tak tepat lalu jatuh cinta, putus cinta tapi terjebak di masa lalu, berbincang dengan kikuk bersama orang asing di tempat antah-berantah, atau melampiaskan cinta dengan cara ganjil seperti diam-diam membersihkan apartemen lelaki pujaan.

Cara kedua untuk menyakiti diri, seperti yang saya sebut di atas tulisan adalah dengan membiarkan orang lain datang untuk menyakiti saat lagi sayang-sayangnya. Memang ada pepatah dari para kaum feminis galak (saya sih harusnya termasuk feminis tapi ringkih hatinya dan kurang galak) soal ini. Menurut mereka, meskipun ada banyak orang datang ke hidupmu untuk menyakiti, bukan berarti kamu layak untuk disakiti.

Lalu, bagaimana jika ada orang yang justru merasa hidupnya lengkap setelah berkawan dengan rasa sakit itu sendiri? Saya, contohnya, entah mengapa jengah sekali saat menjalani hidup yang biasa-biasa saja, datar, enggak ada masalah. Justru, saya senang sekali cari perhatian dengan cari musuh lalu sakit hati. Atau.. membiarkan hati yang rapuh ini dihujam belati berulang kali oleh lelaki yang tiba-tiba datang ke hidup lalu menjadi terasing kembali setelah membuat saya jatuh cinta. Jika dulu di masa remaja saya senang mencampakkan laki-laki, seiring bertambah usia, saya justru memposisikan diri sebagai perempuan yang selalu sakit hati. Saat sakit, saya yang cengeng ini biasanya akan menangis seharian, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bisa dua tahun lebih.

Aneh? Bagi Anda mungkin, tapi bagi Wong Kar Wai tidak. Buat dia, urusan sakit dan patah hati adalah nyawa yang menghidupkan semua cerita di film-filmnya. Keduanya dibenturkan dengan eksistensi memori yang sukar hilang. Lalu direpresentasikan lewat gerak kamera yang menghentak, blur, mendadak hitam putih, slow motion, fast motion, dan warna-warni kontras. Tokoh-tokohnya bisa sangat “kacau”, bermonolog dengan diri sendiri, berbicara pada boneka dan baju mantan kekasih yang pergi tiba-tiba, atau membuat gestur yang menyiratkan kecemasan sepanjang film.

Alih-alih mengganggu, rasa sakit ternyata justru bisa sangat menyenangkan. Nah, saya dan seorang rekan yang juga mengagumi Wong Kar Wai berupaya menerjemahkan film maestro dari Hollywood Timur itu menjadi foto-foto yang dia banget. Pencahayaan minim, gambar kontras, ekspresi cemberut akan tampak di sepanjang foto. Bagi saya yang dituding orang penuh kepalsuan karena suka berpose senyum di foto-foto Instagram, di ekseperimen kali ini akan saya suguhi dengan pose-pose cemberut. Itu semua karena saya suka menyenangkan hati kalian, enggak mau bikin kalian sakit. Biar saya saja yang sakit, sebab kalian tak akan kuat. Hehehe

 Akar seluruh persoalan manusia adalah ingatan. Tanpa masa lalu, sebuah hari yang kita jalani akan menjadi sebuah permulaan baru. Bukankah ini hebat?

“Ashes of Time” (1994)
Foto: Ridlo Qolbee

 Actually, really knowing someone doesn't mean anything. People change. A person may like pineapple today and something else tomorrow.

"Chungking Express" (1994)
Foto: Ridlo Qolbee
 That night I came across that girl again. I know we will never become friends or soulmates, because we have had so many encounters and we never connect. Maybe it had something to do with the weather, but that night… she gave me a warm feeling.
.
"Fallen Angels" (1995)
Foto: Ridlo Qolbee

 If memories could be canned, would they also have expiry dates? If so, I hope they last for centuries.

"Chungking Express" (1994)
Foto: Ridlo Qolbee
Setiap orang akan merasakan patah hati suatu hari. Saat patah hati, aku melampiaskannya dengan berlari sendiri. Sebab, dengan lari, tubuhku banyak mengeluarkan cairan keringat, sehingga, tak ada lagi air mata yang bisa keluar.

"Chungking Express" (1994)
Foto: Ridlo Qolbee

I can't waste time wondering if I made mistakes. Life is too short for that.



"In the Mood for Love" (2000)
Foto: Ridlo Qolbee

Komentar

  1. Memyentuh sekali ya tulisan nya. Tidak menyangka ternyata patah hati bisa dilihat dari sisi lain dan tidak selamanya buruk.

    BalasHapus

Posting Komentar