Review Parasite (2019): Panduan Menjadi Orang Miskin



Adegan paling ikonik di film ini: mencari sinyal wifi di atas toilet rumah./ IMDB

Hati Ki-woo (Choi Woo-shik) masygul hari itu. Pasalnya, wifi tetangga yang biasa ia manfaatkan untuk berselancar di dunia maya sudah diamankan dengan kata kunci. Berulang kali ia memasukkan kombinasi angka yang mungkin dipakai tetangga, tapi selalu gagal. Mengamini saran ayahnya, Ki-taek (Song Kang-ho), ia lantas mengacungkan ponsel ke berbagai sudut langit-langit rumah. Berhasil. Ia bisa menikmati wifi gratis dari café baru tak jauh dari kediamannya, hanya dengan bermodal duduk di atas toilet rumah. Demikian hari-hari Ki-woo sekeluarga demi bisa berkomunikasi dengan orang luar dan menghibur diri.

Ki-woo yang pengangguran hidup bersama orang tua dan adiknya yang cerdik tapi sinis, Ki-jung (Park So-dam). Kedua orang tuanya berkali-kali kehilangan pekerjaan. Mereka mendiami sebuah rumah di perkampungan kumuh yang kerap banjir saat hujan deras dimuntahkan langit Korea Selatan. Mungkin di kejadian nyata, kondisi itu mirip seperti perkampungan kumuh yang berhimpitan dengan gedung pencakar langit di dekat Gangnam, Seoul, atau kalau di Jakarta ya Kampung Akuarium atau daerah bantaran Kali Ciliwung.

Untuk bertahan hidup, sang ibu, Chung Sook (Jang Hye-jin) dibantu anggota keluarga tersebut, melipat kardus kemasan Pizza Generation. Upah yang tak seberapa ini ditukar dengan makanan dan alkohol. Mereka punya tradisi makan bersama sambil membicarakan nasib orang-orang kaya. Saat sedang berkumpul itu lah, biasanya dari daun jendela kaca, akan tampak pria-pria pemabuk yang kencing menghadap rumah. Itu satu-satunya pemandangan yang bisa mereka nikmati saban hari. Perkara makan, jika uang sedang tak ada, diam-diam satu keluarga ini menyelinap untuk makan sepuasnya di pangkalan restoran khusus sopir, tempat di mana ayahnya dulu pernah bekerja.

Salah satu scene di film "Parasite" (2019)./ IMDB

Nasib mereka berubah usai Ki-woo ditawari pekerjaan oleh temannya sebagai guru les privat Bahasa Inggris anak keluarga Park yang kaya raya. Di situlah titik berangkat film “Parasite” (2019) besutan Bong Joon-ho. Tak seperti film-film terdahulunya seperti “Snowpiercer”, “Okja”, dan “Host” yang berbalut fiksi ilmiah, dari awal saya menduga film ini hanya komedi ringan yang dibumbui kritik sosial soal ketimpangan ekonomi di Negeri K-Pop tersebut. Rupanya, dugaan saya meleset total. Komedi gelap khas Bong Joon-ho memang tetap dipertahankan, tapi mood film yang mendadak berubah tanpa peringatan, sukses membuat saya terhenyak. Seperti “Swing Kids”, film bersalin wajah jadi pertunjukan satir yang bau amis darah.

Jujur saja, dari mula hingga akhir, saya selalu gagal menebak arah plot film pemenang Palme d’Or di Festival Film Cannes itu. Selain alur yang mengejutkan, penokohan yang samar dan menerabas batas baik dan buruk serta moralitas, membuat film ini berlipat-lipat lebih menarik. Susah rasanya menghakimi apakah keluarga Ki-woo yang miskin dan menghalalkan segala cara untuk mengubah hidup adalah orang jahat. Pun, apakah keluarga Park yang bergelimang harta, dermawan, tapi naif dan selalu mudah meremehkan orang-orang dengan tingkat ekonomi rendah, bisa disebut sebagai orang jahat atau baik. Saya sendiri jadi ragu, judul film “Parasite” ini merujuk ke kelompok miskin atau si kaya, mengingat orang kaya pun bisa begitu rapuh dan bergantung pada para pembantu. Bahkan, untuk urusan mencuci piring yang sangat mudah pun, istri konglomerat itu tak pernah piawai melakukannya.

Film yang menunjukkan pertentangan kelas secara terang-terangan di negeri yang kaya raya ini menjadi pas karena kritik yang digunakan terasa relevan, meski kadang dihadirkan secara subtil. Salah satu cara satir Bong Joon-ho adalah dengan menggunakan metafora bau orang kaya dan bau orang miskin. Maksudnya, orang miskin akan identik dengan bau tak enak khas perkampungan kumuh atau stasiun bawah tanah. Sementara, mereka yang hidup glamor dan tak pernah merasakan naik angkutan umum berbau wangi dan tampil gaya di berbagai suasana.

Dalam kondisi semacam itu, siapa yang seharusnya bertanggung jawab dan menyesuaikan diri? Apakah orang miskin harus mengenakan parfum sepanjang hari agar bau busuk keringat di tubuh tak membuat mual hidung orang kaya, atau mestinya orang kaya yang maklum saja? Otak saya kemudian berpikir keras untuk mendefinisikan ulang perihal bagaimana seharusnya si miskin dan kaya berkompromi.

Salah satu anak keluarga Park yang sudah terbiasa hidup kaya raya dan berkecukupan./ IMDB

Demikian halnya dengan hujan yang bisa jadi berkah buat orang kaya, karena menghasilkan langit biru tanpa polusi setelahnya. Sebaliknya bagi keluarga miskin macam Ki-woo, hujan adalah dalang yang membuat ia dan keluarganya terpaksa mendekam di tempat penampungan pengungsi karena rumahnya digulung banjir air limbah berwarna coklat kehitaman.

Lalu, rumah orang kaya terletak di perbukitan yang asri di mana mereka bisa menikmati siraman cahaya mentari dari kaca jendela besar rumah. Sementara, pemandangan yang dilihat orang miskin yang tinggal di dataran bawah cuma orang mabuk dan kencing sembarangan.

Sampai tengah film, Bong Joon-ho memang masih menahan diri, baru menjelang akhir ia sengaja meluapkan “amarah” terbesarnya. Saya yang awalnya tertawa santai, kadang tertawa perih karena yang ditertawakan adalah tragedi, mendadak tak mau tertawa lagi di akhir film. Ngeri pokoknya. Dengan kejeniusan Bong Joon-ho membolak balik suasana hati penontonnya, rasanya sayang melewatkan film berkualitas ini.

Komentar