Ziarah Diri: Perjalanan ke Jawa Timur



Sengaja menyebut perjalanan sendiri sebagai ziarah, tentu saja tak berpretensi seperti ziarah dalam pengertian kovensional. Misalnya ziarah orang ke Mekkah atau ziarah dua orang tua Efim Scheveloff dan Eliyah Bodroff ke Yerussalem dalam dongeng Tolstoy. Mungkin ziarah yang saya maksud lebih mirip seperti motivasi Iwan Simatupang menulis "Ziarah", "Kering", dan "Koong" yang dilatarbelakangi oleh jiwa yang limbung, yang berusaha mencari ketentraman baru, usai ditinggal mati istri tercinta, Imelda de Gaina (Corrine) karena penyakit tipus.

Seperti Iwan, saya kehilangan beberapa hal. Ghalibnya kehilangan, itu selalu tak pernah mudah bagi saya, mungkin bagi orang lain pula. Ada kepahitan, tangis, kekosongan. Tapi kehilangan yang saya maksud sebenarnya bukan dalam bentuk ditinggal mati orang dekat, ditinggal pergi kekasih, atau kehilangan pekerjaan yang saya cintai di kepenulisan. Itu semua tak ada artinya bagi saya dibandingkan kehilangan diri sendiri.

Sudah lama saya berada di persimpangan jalan. Saya selalu gagal mendefinisikan kemauan pribadi, tujuan hidup (apa hidup punya tujuan?), bahkan gagal untuk menerima dan mencintai diri sendiri. Untuk beberapa saat saya menolak badan saya, jiwa saya. Saya benci sekali rasanya, tapi tak bisa lari kemana-mana. Sampai akhirnya, seperti Iwan, saya berusaha mencari jalan pulang ke diri.

*

Perjalanan ke Jawa Timur pun sengaja saya lakukan seorang diri karena ada banyak kesempatan untuk berduaan dengan pikiran saya, untuk merenung. Meskipun faktanya, kita tak pernah benar-benar sendiri saat melakukan perjalanan, sebab selalu ada orang-orang baru yang kita temui sepanjang jalan: kakek nenek yang sudah menikah lima puluh tahun, pengantin baru yang bulan madu dengan kereta api, tukang rokok ketengan, penjual mie pangsit babi, tukang rawon di stasiun, laki-laki yang mulutnya bau bir, polisi lalu lintas, polisi moral, dan lainnya.

Belakangan, meski saya berniat untuk sendiri saja, ternyata pertemuan dengan banyak orang asing lalu menjadi hangat, lalu kembali asing, membuat saya bersyukur. Sebab, dari mereka saya belajar banyak hal, bahwa kadang ada hal-hal yang tak kita mengerti terjadi dalam hidup, se-absurd itu. Seperti ketidakpahaman saya tentang bagaimana mungkin ada orang yang tahan melihat wajah yang sama tiap bangun tidur selama lima dekade, dan masih bisa saling bergandengan tangan saat usia sudah menginjak 80.

“Pernah bosan, Nek?” tanya saya pada nenek itu.

“Tiap kali mulai bosan, Nenek selalu mengingat hari pertama pernikahan kami ketika suami menggendong Nenek ke kamar pengantin.”

Siapa nenek-nenek yang punya pemikiran seperti itu?

Di suatu hari yang lain, saat di kereta menuju Banyuwangi, saya duduk sebangku dengan perempuan setengah baya. Ia menunjukkan ponsel genggamnya pada saya penuh antusias.

“Ini cucu saya, umurnya baru satu bulan. Saya habis jenguk dia, karena ibunya mau sidang skripsi,” ujarnya.

Anak perempuannya hamil di luar nikah oleh kekasih yang dipacarinya selama bertahun-tahun. Umurnya masih 22 saat melahirkan bayi itu. Perempuan setengah baya ini mengaku tak pernah menentang hubungan anak dan kekasihnya, meski tampaknya itu berjalan di luar koridor standar masyarakat. Ada alasan khusus kenapa ia begitu supportif.

Ia bercerita pada saya, selama 25 tahun perkawinannya, tak pernah dianggap menantu oleh mertua. Sehingga, ia dan suami harus memutar otak agar bisa bertahan tanpa dukungan orang tua, kendati perekonomian keluarga belum semapan sekarang.

“Saya enggak mau minta orang tua meski sepeser pun. Saya juga enggak mau, dengan alasan demi disukai oleh mertua, saya jadi menjatuhkan harga diri atau mengubah prinsip hidup. Toh, saya juga tak bisa memaksa semua orang menyukai saya. Justru pengalaman tak dirangkul mertua membuat saya belajar untuk mendukung anak, merestui agar mereka bertanggung jawab atas pilihannya."

Sungguh perempuan yang keras kepala, lembut hati, tapi saya suka.

Kadang percakapan acak seperti itu yang saya butuhkan sepanjang perjalanan. Selama seminggu di Jawa Timur, saya ngobrol dengan orang, entah berapa banyak.

*

Di Jawa Timur sendiri, ada sejumlah kota yang saya datangi, di antaranya Surabaya, Malang, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Saya jarang menginap hotel, kecuali jika terpaksa. Hotel justru membuat saya tak banyak mendapat kesempatan untuk berbicara leluasa dengan orang lain.

Setelah meluncur dengan kereta selama belasan jam, saya sampai di kota pertama, Surabaya. Pada 2016 saya familiar sekali dengan kota ini, karena waktu itu saya berdomisili di Sidoarjo. Sementara jarak Sidoarjo ke Surabaya relatif dekat, bisa ditempuh 40 menit berkendara motor. Saya sering ke sini dan menjadi turis saat itu. Namun, kedatangan kali ini berbeda. Saya ingin lihat wajah Surabaya di malam hari, dan pilihan tepat untuk mendapat teman ngobrol yang unik di waktu malam adalah di warung kopi Gang Dolly.

Gang yang dulunya melambungkan nama Surabaya hingga negara-negara di Asia Tenggara, karena deretan perempuan cantik di lemari kaca itu tak lagi sama. Rumah Barbara disulap jadi tempat “pemberdayaan” warga untuk belajar komputer, bahasa, menjahit sandal hotel, dan sebagainya. Dinding-dinding rumah warga dicat, diberi mural dengan tulisan-tulisan motivasi. Risma barangkali lupa, cat setebal apa pun tak akan mampu menutupi kesedihan orang-orang yang tercerabut dari rumah tempat mereka bersuaka di Dolly.

Seperti rekan bicara saya di warung kopi. Kerjanya dulu germo, menawarkan perempuan ke satu lelaki ke lelaki lain. Sejak Dolly ditutup, ia masih melakukan hal serupa, dengan intensitas yang sama, tapi hasil sangat berbeda.

Di ingatannya, Dolly bak kuil suci. Bukan pelacur yang membuat Dolly tak bermoral di mata seorang Risma, tapi kemanusiaan-kemanusiaan yang muncul di bawah tanah. Mungkin tak ada orang yang tahu, bahwa rerata perempuan yang berpeluh di Dolly adalah kalangan terdidik yang berusaha meliberalisasi tubuhnya (saya jadi ingat novel Nawal); ada perempuan yang bisa menguliahkan anaknya, tapi ketika Dolly ditutup, anak tersebut terancam putus sekolah. Risma, imbuhnya, hanya berambisi membuat Dolly bermoral menurut tatanan umum, padahal Dolly tak sekadar tempat bersarangnya pelacur dan lelaki hidung belang. Dia adalah rumah, suaka, kuil, hidup.

Obrolan terhenti, karena saya harus bertolak ke Malang lalu ke Banyuwangi dan Situbondo. Hati saya berat malam itu. Namun, kereta sudah menunggu dan Banyuwangi di ujung sana siap ditelanjangi.

Di Banyuwangi sendiri, saya menemukan beragam manusia saat mendaki Ijen. Kebanyakan orang tentu bertandang ke Ijen atau tempat wisata lain di Jawa Timur seperti Bromo dan Baluran, hanya demi menuntaskan ego untuk menaklukkan destinasi atau ajang pamer foto. Padahal ada banyak hal yang bisa disigi dari tempat-tempat wisata semacam ini.

Di Ijen, siapa yang menyangka, di balik megahnya matahari terbit, api biru abadi, dan kawah kaldera, ada perayaan atas kesedihan orang-orang di sekitarnya. Tiap hari, ada belasan, mungkin puluhan penambang belerang yang naik turun gunung setinggi 2.800-an mdpl, bertaruh nyawa berburu bahan dasar obat dan kosmetik itu di sekitar kawah dan asap beracun. Lalu mengangkut 80 kilogram belerang sebanyak dua hingga tiga kali saban harinya. Padahal harga sekilo belerang hanya Rp1.250.

Siapa juga yang mengira, di balik eksotisnya savanna di Situbondo, ada getir dari penduduk setempat, yang mengutip Pakde Karwo, miskin secara kultural juga fungsional. Siapa yang menyangka, di balik ganasnya monyet Pantai Bama menyerang pengunjung, mencuri jaket, mengacak-acak jok motor, ada problem over-population yang pelik lantaran pengunjung memberi makan pada mereka terus-menerus.

Sekelumit cerita dari beberapa pertemuan dengan para orang asing itu membuat saya berpikir kembali, buat apa saya susah-susah mencari jalan pulang, ketika jalan itu sebenarnya sudah terbentang luas jika saya mau. Bukan orang lain, tapi saya sendiri yang menjadi penghalang jalan tersebut. Faktanya, semakin terasa, pulang ke diri tak serumit yang ada di benak saya. Tak harus ndakik-ndakik mengikuti teori Kubler-Ross untuk mendapat kestabilan diri secara batin. Saya hanya harus berdamai dengan semua kesedihan, kepahitan, kebaikan, kekurangan, musuh, masa lalu, dan angan-angan masa depan yang masih misterius.

Pada akhirnya, saya bersyukur bisa berziarah ke Jawa Timur. Dari sana, saya tak hanya mengenal diri dan menerima semua kekurangan, tapi juga belajar untuk menjadi manusia.

Komentar