Confession (1)


Bab Pernikahan

“Aku bakal mencintaimu selamanya..”

Saya kerap mengucapkan kata ‘selalu, selamanya, tak akan berubah’, khususnya saat telanjang. Padahal, ada yang pernah bilang, kesalahan terbesar adalah mengucapkan banyak janji kala bercinta, sebab ekstase selalu memabukkan, membuat kita lupa diri, dan tak lagi menginjak tanah. Tentu saja sepanjang 27 tahun, tak cuma sekali saya mengucapkannya pada laki-laki. Bukan karena saya lemah, atau merasa dia yang saya kencani adalah laki-laki yang saya inginkan dalam hidup. Sebab, seingat saya, selama empat kali berkencan serius dan setengah serius, saya tak pernah benar-benar yakin seratus persen dengan perasaan saya. Ada saja hal-hal yang tak bisa dijelaskan mengapa saya selalu ingin berlayar, belum mau berlabuh di dermaga manapun. Andai ada hasrat untuk berlabuh pun suatu kali, itu tak lebih dari kenaifan muda saya.

Nah, kembali lagi ke pertanyaan kenapa saya gemar mengucap kata cinta untuk selamanya, mungkin hanya karena saya ceroboh. Suatu hari, saya mendadak senang berdiam selama puluhan menit di depan lukisan Frida Kahlo yang berserak di internet. Frida adalah perempuan sial dan juga ceroboh, sama seperti saya. Menderita polio sejak kecil hingga ia harus membungkus kaki kanannya dengan berhelai-helai kaos kaki agar seimbang; menjalani lusinan operasi dan mengenakan besi penyangga tulang belakang karena kecelakaan fatal saat remaja; dan nyaris diselingkuhi oleh suaminya Diego. Namun, ia tetap saja mengaku, baik lisan atau bicara lewat lukisannya, “Saya adalah manusia ceroboh. Selalu mencintai, mencintai, mencintai, dan mencintai. Dan tak pernah meninggalkan.”

Teman-teman dekat yang tahu saya, pasti paham kenapa saya mendadak jadi manusia paling bodoh sedunia saat jatuh cinta. Tak ingin meninggalkan, kendati sebagian besar dari mereka adalah pria brengsek yang menyia-nyiakan investasi waktu, perasaan, dan uang yang saya keluarkan. Maaf kalau saya jadi kalkulatif, tapi bukankah pacaran itu rerata adalah investasi paling buruk, terutama jika partner kamu beserta semua lingkungan hubungan kalian sangat beracun, abusif, dan tak supportif sama sekali. Dan sialnya, saya tetap jadi manusia ceroboh yang mengucap “cinta untuk selamanya” sesering saya berak di kakus. Saking seringnya, sampai saya pernah memohon untuk tak ditinggalkan, kendati mata saya lebam lantaran sebuah bogem mentah mendarat berkali-kali di sana, atau saat saya tahu hubungan bertahun-tahun yang saya jalani adalah murni omong kosong karena kami tak benar-benar saling mencintai, saya tetap tak ingin ditinggalkan atau meninggalkan. Di titik itu, saya tak hanya merasa menyedihkan dan ceroboh, tapi juga penakut. Saya jadi begitu kerdil menghadapi kepahitan. Saya marah pada teman saya yang meminta saya meninggalkan laki-laki, karena saya tahu mereka benar.

Tapi kebodohan saya tak pernah benar-benar berhenti. Saat usia 25 tahun, saya bertemu dengan pria yang tak kalah abusifnya, patriarkis, bernafsu sekali ingin membuhulkan hubungan di insititusi pernikahan karena umur sudah menginjak kepala tiga, dan yang lebih mengesalkan adalah: dia selalu menjadikan saya seperti boneka pajangan yang ia pamerkan pada teman-temannya yang gemar menghisap ganja. Lagi-lagi karena ceroboh, saya sengaja menyiksa diri dalam neraka ini selama berbulan-bulan. Sampai akhirnya, ada jalan keluar, saat kewarasan menguasai saya.

Juli 2017, saya ingat betul lambaian tangannya di Bandara Semarang saat saya bertolak ke Kalimantan. Wajahnya kuyu, dan bahunya gemetaran karena nekat berkendara dari Jakarta demi mengucapkan salam perpisahan pada boneka pajangannya ini. Saya membalas lambaian itu dengan enggan, karena saya yakin di titik itu saya tak merasa sedih. Saya lega. Saya sudah menduga, lambaian itu jadi penutup hubungan kami pada akhirnya.

Episode berikutnya, saya bertemu dengan seorang laki-laki yang sebenarnya biasa-biasa saja di Kalimantan. Saya tak menemukan ada sesuatu yang spesial pada mulanya, selain karena dia bisa jadi green card saya untuk mengakhiri hubungan beracun dan melepaskan saya dari sepi yang mengoyak di tanah rantau. Lambat laun berbincang dengannya seperti racun baru, yang anehnya kali ini racun itu membuat saya candu, meski saya tahu tetap saja ia akan membunuh suatu hari.

Saya tak buru-buru mengucap cinta untuk selamanya pada laki-laki ini, karena belakangan saya tahu, dia sudah berkomitmen pada hubungan serius dengan perempuan yang konon katanya tak pernah ia cintai. Ah, semua kebohongan indah tapi klise yang selalu diucapkan laki-laki yang sudah punya anjing penjaga, saat mengendus anjing betina lain. Tapi, toh lama-lama saya tak ambil pusing. Standar saya soal hubungan yang ideal betul-betul berubah total. Pernikahan tak lagi muara. Terlebih setelah saya senang baca berulang-ulang buku Nawal El Saadawi soal pelacur yang menemukan kebebasan dan tujuan hidup di dunia sebrutal ini, “Perempuan di Titik Nol”. Bagaimana tidak, dalam contoh paling ekstrem, argumen soal perkawinan yang tak lebih dari permisifnya pelacuran atas tubuh istri terasa masuk akal di kepala saya.

“.. tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Perempuan diikat dalam lembaga perkawinan dan ‘dihukum’ dengan kerja-kerja domestik,” itu katanya. Apa enggak mengerikan?

Dan kebetulan, pengalaman berkencan dengan laki-laki ini membuat saya belajar hal penting, bahwa menikah dengan seseorang tak lantas membuatmu jadi manusia paling bahagia, apalagi dalam kasus dia dan juga saya, ada kesamaan karena pasangan kami sama-sama bodoh dan tak mau berpikiran terbuka, cenderung memuja patriarki, dan tak membebaskan. Sorry to not sorry, but this is fucking true. Bukan kami mau merasa paling sempurna, tapi manusia mana yang mau berkomitmen dengan pasangan yang alih-alih mendukung, justru mengeluarkan sederet larangan yang acap kali tak masuk akal. Dalam contoh saya, bahkan untuk pergi dengan teman pun, pasangan bisa melabeli saya “perempuan tak baik-baik”. Padahal, siapa juga yang peduli dengan standar moralmu. Sementara, dalam kasus laki-laki ini, pasangannya yang kini jadi mantan tak kenal move on itu, tak pernah memberi ruang untuk ia tumbuh dan mengenal dirinya sendiri.

Alhasil, ke-tersesat-an kami di hubungan beracun itu membuat kami sadar, bahwa kami saling menemukan satu sama lain. Saya tak peduli dengan statusnya, dengan orang tuanya yang tak benar-benar saya kenal hingga sekarang, dengan cara dia berpakaian: pernah dia tertawa-tawa karena melihat bayangannya sendiri di cermin bertingkah seperti seniman ngehek dengan kumis, atau musisi norak bercelana pendek dan kaos kaki SMA, atau eksekutif muda dengan rambut klimis. Saya tak pernah peduli, sepanjang kami punya cara pandang yang sama atas banyak hal dalam hidup. Oh iya, dan di antara beberapa laki-laki yang saya tiduri dengan consent, tak usah menanyakan kepiawaian dia menari di atas ranjang. Ini bisa jadi bonus kecil. Dan cara dia membebaskan saya sebagai perempuan, membuat saya berterima kasih. Terlebih, mengutip sahabat saya, ketika tubuh renta dan gairah tak lagi menggebu, apa yang benar-benar dibutuhkan manusia dari sebuah hubungan? Jawabannya adalah kawan bicara. Dengan dia saya merasa sudah menemukan kawan bicara yang sepadan, yang kala bersamanya saya tak perlu khawatir akan kekeringan kata.

Meski begitu, apakah dia yang saya inginkan? Apakah kali ini saya tak mengulang kecerobohan yang bodoh? Tentu saja keraguan sering menyergap, terutama karena hubungan kami tak seperti orang lain yang mulus-mulus saja: kenal, berkencan, menikah. Kami adalah manusia yang penuh kepahitan, terbentur terbentuk karena getir dan kondisi patriarkis. Saya sendiri sudah kenyang dengan label perusak hubungan dari mantan anjing penjaga yang tampaknya kurang terdidik itu, doxing, perundungan, ghosting, dan tetap saja diposisikan sebagai perempuan bersalah. Perempuan amoral. Sementara, dia ditinggalkan keluarga—entah apakah masih laik disebut keluarga atau rumah, saat itu tak pernah jadi tempat ideal untuk pulang kembali. Kendati terdengar klise, tapi di saat-saat rentan, yang kami bisa lakukan hanya saling menguatkan.

Bisa jadi saya ceroboh karena bertahan dengannya, meski saya tahu kondisinya tak pernah mudah buat kami berdua. Bisa juga dia yang ceroboh, atau kami sama-sama ceroboh karena terlalu sibuk mencintai, mencintai, mencintai, dan mencintai, tapi tak pernah meninggalkan. Namun, setidaknya saya tahu, ini adalah kecerobohan terbesar yang selalu saya syukuri. Kecerobohan yang mengantarkan saya pada suatu hari di tanggal 23 April 2019. Dia mengucap janji untuk berlayar bersama. Meskipun kami tak pernah tahu apa yang ada di masa depan, tapi minimal untuk beberapa waktu atau untuk selamanya, kami bisa berlabuh di rumah yang tengah kami bangun ini.

Untuk A.A yang mencintai dan tak meninggalkan. Aku mencintaimu (mungkin) untuk selamanya.

Komentar

  1. wow sangat mengharu biru sekali, terlihat sangat nyata dan sudut pandang dari sisi perempuan yang sangat dalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya Mas Jumanji bin Ngibulin, sudah sudi meluangkan waktu baca remah-remah curahan hati saya yang terdalam ini. Salam kukur2, Mas:p

      Hapus
  2. Sangat menginspirasi, serasa nyata tulisanya.

    BalasHapus

Posting Komentar