Ramai-ramai memusuhi anak Jaksel yang keminggris

Dalam sepekan terakhir, jumlah kicauan orang di twitter soal tren ‘keminggris’ anak Jaksel mencapai 1.090 buah.
Ramai-ramai memusuhi anak Jaksel yang keminggris
Saya tak sengaja mendengar sekawanan anak SMA yang tengah berbincang soal film “Crazy Rich Asians” di sebuah pusat perbelanjaan di Kemang, Jakarta Selatan. “Gue suka banget, I mean like, itu kek best movie ever. Film itu literally jadi film favorit gue,” ujar salah satu di antara mereka.
Kawan di sampingnya menimpali, “Ya, gue keknya mau nonton lagi deh. Itu kek romantic banget enggak sih buat teenager kek kita.” Yang lain sibuk mengangguk, mengiyakan pendapat dua temannya sembari asyik utak-atik gawai di tangan.
Itu bukan kali pertama saya mendengar orang berbicara menggunakan bahasa gado-gado semacam ini. Awal bulan lalu, saya mewawancarai tiga orang, dan mendapati gaya bicara mereka yang begitu luwes mencampur bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
Iseng, dalam satu menit saya menghitung, seorang kawan bisa menggunakan kata 'which is' dua hingga tiga kali. Tak ketinggalan menambahnya dengan sejumlah slang, seperti ‘kek’, ‘yauda’, ‘keleus’, ‘yhaa’ (dengan huruf ‘h’, dan rima ‘a’ sengaja dilafalkan agak panjang). Menurut teman saya ini, cara berbicara yang semacam itu terbawa dari lingkungan pergaulan sehari-hari. Tak ada yang disengaja, ujarnya, memang sudah kebiasaan. Sehingga, bukan demi alasan menambah derajat kekerenan.
Tren ‘keminggris’ alias kecenderungan mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam lingustik ini, dengan segera jadi bahan olok-olok. Mereka yang disasar jadi objek perundungan adalah orang-orang yang tinggal di Jakarta Selatan (Jaksel). Padahal, tren ‘keminggris’ tak hanya dilakukan mereka yang tinggal di selatan Jakarta. Kalau kebetulan iseng ke café-café di Jakarta Pusat, seringkali kita akan mendapati orang berbahasa ‘keminggris’.
Dalam sepekan terakhir, jumlah kicauan orang di twitter soal tren ‘keminggris’ anak Jaksel mencapai 1.090 buah. Jika dipersempit, dalam dua hari terakhir kicauan yang umumnya ramai merundung anak Jaksel di twitter mencapai 231 kali. Hampir sebagian besar pengguna twitter yang sibuk berkicau, termasuk yang sekadar retweet atau like soal itu didominasi laki-laki sebanyak 52%, dan 48% sisanya adalah perempuan.
Sesuai dugaan saya, mereka yang ramai membicarakan ini di twitter, mayoritas berumur 18-25 tahun (41,6%). Sementara sisanya, berusia 26-35 tahun (36,9%), di atas 35 tahun (13,4%), dan bawah 18 tahun (8,1%). Dalam klasifikasi McCrindle, penyedia analisis sosial-cum-demograf, orang berusia 18-37 tahun memang termasuk generasi millenial. Itu dicirikan dengan keaktifan di dunia maya dan teknologi terkini. Dari riset tempat saya bekerja, Alinea.id tersebut, tampak jika mereka yang intens berkicau, termasuk yang merundung, adalah para millenial.
Yang unik, meski sebanyak 65,4% kicauan bergema di Jakarta, namun sejumlah daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Riau Kepulauan, hingga Kalimantan Barat juga turut memperbincangkan tren ‘keminggris’ ini. Itu menjadi bukti, stereotipe anak Jaksel yang gemar berbahasa gado-gado itu juga diperhatikan hingga ke daerah.
Tagar yang digunakan pun beragam. Penggunaan tagar #anakjaksel memang masih mendominasi, di samping tagar lain, seperti #bogorian, #anaksumsel, dan #jokesreceh. Yang tak disangka, kicauan soal ini juga meminjam tagar #2019gantipresiden, #2019prabowosandi, dan #2019prabowopresiden.
Top influencers
Ivan Lanin tiba-tiba jadi orang yang paling sering dihubungi media massa, saat membahas tren ‘keminggris’ anak selatan Jakarta. Dari tiga media daring yang paling intens memberitakan isu ini, Kumparan, Tirto, dan Liputan6, pendapat wikipediawan pecinta bahasa Indonesia itu dikutip minimal hingga enam kali dalam sepekan terakhir, melalui wawancara langsung. Belum termasuk yang sekadar mengutip dari pernyataan Lanin di twitter pribadinya.
Editor Google yang kerap lekat dengan label polisi bahasa itu memang sempat berkicau soal tren ‘keminggris’ orang-orang di Jakarta. Setidaknya ia berkicau dua kali terkait ini, pertama meluruskan soal penggunaan kata ‘yang’, kedua soal ‘literally’ yang sebaiknya diganti dengan ‘betul-betul.
Lanin memang terkenal saklek dalam meluruskan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia bahkan sempat membuat buku bertajuk “Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?” (2018). Buku ini merupakan ikhtiarnya untuk menyadarkan publik, tentang abainya publik dalam berbahasa yang baik. Xenoglosofilia sendiri berarti kecenderungan untuk lebih senang berbahasa asing, khususnya Inggris.
Alasannya menurut Lanin di berbagai media, sangat beragam. Ingin terlihat keren, kebiasaan di lingkungan pergaulan sehari-hari, hingga ingin menambah kesan pintar. Untuk alasan terakhir, ini bukan sekadar karangan. Bahkan sejumlah pejabat seperti Ali Mochtar Ngabalin, Anies Baswedan, Sri Mulyani juga kerap menyisipkan bahasa Inggris dalam pernyataan pers mereka.
Dari penelusuran tim riset Alinea, Anies Baswedan menjadi top influencers kedua yang sering dituding menggunakan bahasa gado-gado ini. Anies tercatat ikut dalam pusaran tren ‘keminggris’ karena berbicara gado-gado, minimal tiga kali dalam dua tahun terakhir.
Pertama, saat menyebut istilah lelang jabatan Pemprov DKI dan menggantinya dengan ‘open promotion’. Lalu, saat berpidato di depan sebuah seminar, Selasa (4/9) yang diberitakan Kompas. Katanya, "Kita punya penduduk 10 juta, dan 30 persen earning less than 1 million per month. Dan bapak ibu semua menyadari what does it mean having 1 million in the city like Jakarta. What can you do dengan angka itu? This is a problem.”
Sebelumnya, pada Sabtu (11/11), dia juga tampak ‘keminggris’ di depan warga Pulau Pramuka. Media Indonesia menulis kutipan pidato Anies, “Pesan saya, think like a stranger, act like a native."
Penggunaan bahasa gado-gado oleh Anies dan pejabat lain bisa dilacak sejak awal abad ke-20. Saat Belanda menerapkan politik etis, kelompok elite bumiputra yang berkesempatan belajar di sekolah Belanda, kerap menunjukkan gaya berbahasa yang campur-campur. Soekarno, kalangan berpendidikan di era kolonial yang kemudian ditahbiskan sebagai pejabat pun sering berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia sekaligus.
Framing media yang berusaha membela anak Jaksel, selain membeberkan sejarah, ternyata juga dengan mengutip penjelasan dari para ahli bahasa dan guru sekolah internasional. Tak heran, jika top influencers yang kerap dikaitkan dengan tren ‘keminggris’ berikutnya, hadir dari kalangan pemerhati bahasa.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Totok Suhardijanto paling sering diwawancara terkait isu ini. Pakar linguistik itu dulu jadi langganan saat diminta pendapatnya tentang bahasa rumit ‘Vickinisasi’. Media-media seperti Detik, Liputan6, hingga Tirto juga mengutip pendapat Totok.
Berikutnya, sejumlah guru sekolah internasional dan guru bahasa Inggris juga diwawancara media-media daring saat membahas tren ini. Tirto paling rajin mewawancarai mereka. Dalam salah satu liputannya bertajuk “SMA Internasional di Jaksel: Berharap si Anak Lancar Keminggris”, media ini mewawancarai tiga guru sekaligus. Mereka adalah Valentino, guru bahasa Inggris SMAN 70, Riskia Ramadhina, guru kelas satu SD internasional di Jakarta Selatan, dan Dessy Kurniati Halim, guru taman kanak-kanak di Global Nusantara School Jakarta.
Dari hasil wawancara Tirto dengan Valentino misalnya, didapat hasil positif dari penggunaan bahasa gado-gado itu. Hasil ujian bahasa Indonesia di Ujian Nasional 2017 menunjukkan, nilai bahasa Inggris siswa SMA itu relatif sebanding dengan ujian bahasa Indonesia.

Komentar