Kritik menggigit dari lorong sempit

Muatan kritik dalam musik nir label bergerak kian dinamis. Banyak musisi indie pengalun ‘suara sumbang’ yang ingin mengajak resah publik.


Kritik menggigit dari lorong sempit
Musisi indie seperti Efek Rumah Kaca (ERK) mewarnai blantika musik dengan lirik-lirik sarat kritik./ Kineforum


Medio 1960-an, dunia seni tanah air gaduh saat konflik dua kelompok budaya besar, Manifesto Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) pecah. Wacana membawa pulang seni ke rumah asalnya jadi jargon utama Manikebu. Jargon itu lahir atas kemuakan pegiat Manikebu seperti HB Jassin, Wiratmo Soekito, Trisno Soemardjo, termasuk Goenawan Muhammad yang kala itu masih belia. Mereka keberatan dengan hegemoni dan tekanan dari golongan kiri yang tergabung di LEKRA. Bagi mereka, ideologi kesenian dan kesusastraan realisme sosial yang dipraktikkan LEKRA, telah menodai nilai kesenian yang adiluhung.
Sementara orang-orang LEKRA berpendapat, seni tak pernah bebas nilai. Salah satu tokoh ‘galak’ LEKRA, Pramoedya Ananta Toer berujar, seni harus mencerminkan realitas sosial dan bisa digunakan sebagai mesin penggerak perubahan. Untuk itulah semua produk seni LEKRA biasanya selalu mengandung muatan kritik sosial.
Tanpa menyederhanakan konflik ideologis dua kelompok tersebut, penggunaan seni sebagai medium kritik belakangan rupanya diimitasi seniman-seniman berikutnya. Termasuk dalam kancah musik, di mana kritik sosial bebas mengudara dari sana. Musisi kondang di zamannya, seperti Iwan Fals, Panbers, dan Slank kerap membuat panas pemerintah akibat lagu kritik yang mereka senandungkan.
Namun bicara kritik dalam musik yang terkungkung industri mayor label tentu tak sebebas kritik yang digaungkan musisi indie. Indie sendiri dari terminologi kata berasal dari kata independen. Penekanan indie dalam dunia musik, menurut penulis Jakarta Beat, Aris Setyawan, lebih kepada metode produksi dan distribusi karya.
Pergerakan musisi indie ditandai dengan kemunculan mini album Pas Band bertitel “4 Through The Sap” (1994), yang dirilis secara mandiri. Sejak saat itu, musisi yang melakukan proses produksi album mandiri pun kian ramai.
Keuntungan dari penciptaan dengan metode ini adalah musisi bebas berkarya tanpa diatur selera label rekaman atau mengikuti tren pasar. Mengutip lagu Efek Rumah Kaca (ERK), “Pasar bisa diciptakan”, memang indie punya basis massanya sendiri.
Mereka yang bergerak mandiri, membuat album berbeda dengan musik arus utama. Mocca bisa bicara cinta dengan kemasan suasana yang ringan, riang, dan ceria. Musisi lain seperti ERK pun bisa puas menghajar pemerintah lewat balutan musik pop minimalis. Stars and Rabbit bisa bereksperimen dengan alunan musik folk, dengan suara melengking, dan logat bahasa Inggris yang khas dari Elda sang vokalis, tanpa takut tak disukai. Fajar Merah, musisi putra Widji Tukul pun leluasa membuat musikalisasi puisi, dan tetap diganjar tepuk sorak pendengarnya. Atau Payung Teduh dan Banda Neira yang bisa membuat kita larut dalam lagu berlirik indah dan menggelitik.
Bagi mereka yang ingin menyuarakan kritik, musik indie adalah wadah yang pas. Bukan berarti jika masuk dalam label tak bisa menjadi agen penyalur kritik sosial. Namun tentu ruang itu dibatasi selera pasar. Seperti yang terjadi pada awal 2000-an, ketika industri musik kita direbut musisi yang menyanyikan lagu cinta dengan gaya Melayu. Bagi musisi yang ingin berbeda saat itu, tentu akan menempuh perjalanan sulit, apabila masih terkurung dalam label mayor.
Tak heran jika kemudian kala itu, trio pop ERK muncul dan menghajar tren band-band melayu yang mengobral cinta melalui lagu ‘Cinta Melulu’. Lalu band besutan Kholil ini makin galak membunyikan kritik lewat lagu-lagu lainnya. “Di Udara” lagu yang berisi kritik atas tirani pemerintah yang gemar membungkam kritik dengan penculikan atau pembunuhan. Lagu ini muncul terutama untuk mengenang pembunuhan aktivis HAM Munir yang tewas terbunuh di dalam pesawat saat hendak bertolak ke Amsterdam, Belanda.
Lagu-lagu kritik lain juga deras diciptakan musisi seperti Silampukau yang pernah menulis keresahan masyarakat soal penutupan pusat prostitusi Dolly, Surabaya. Sisir Tanah yang lahir dari Kota Gudeg kerap bicara pelestarian tanah dan reforma agraria dalam lagu-lagu yang ia buat. Saya pilih lima musisi yang melantunkan kritik dalam lagu-lagu mereka. Berikut ulasannya:
1. Silampukau
Band yang lahir di Surabaya pada 2009 ini selalu bercerita tentang Surabaya apa adanya. Duo folk Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening menggambarkan wujud Kota Pahlawan mulai dari hiruk pikuk jalanan, lokalisasi Dolly dalam lagu “Sang Pelanggan”, kemacetan Jalan Ahmad Yani di lagu “Malam Jatuh di Surabaya”. Kemudian “Lagu Rantau (Sambat Omah)” bercerita tentang pergulatan hidup di kota besar dari kacamata akar rumput.
Dilansir dari BBC, lagu-lagu itu lahir dari obrolan di warung kopi. “Di warung kopi, koreng-koreng kehidupan dikelupas dan dipamerkan dengan bangga. ‘Saya pernah begini, saya pernah begitu’, semua dosa dipaparkan dan semua prestasi dipamerkan. Di situ narasi-narasi tentang kota lebih hidup ketimbang lewat mata akademisi atau politikus,” kata Kharis. Karena mengangkat obrolan di warung kopi itulah, Kharis dan Eki mengaku tidak pernah berupaya mengadvokasi dan mewakili suatu kaum di kota. Keduanya mengaku hanya sebagai pencerita ulang dongeng-dongeng kehidupan di kota tempat tinggal mereka.
2. Melankholic Bitch
Melancholic Bitch lahir pada 1999 oleh Ugoran Prasad dan Yosef Herman Susilo di sela-sela aktifitas mereka dalam proyek kesenian Performance Fucktory. Ungoran yang pernah berduet dengan Frau dalam lagu “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” ini berjibaku mengemas kritik, satir, dan ironi dalam lagu-lagunya.
Hingga kini, Melancholic Bitch sudah menelurkan album Anamnesis (2005), Balada Joni dan Susi (2009), Lagu-lagu yang Tidak Bisa Dipercaya (2011), album rilis ulang Re-Anamnesis (2013), serta NKKBS Bagian Pertama (2017) yang berisi kritik pada pemerintah Orde Baru.
Album "Balada Joni dan Susi" bercerita tentang petualangan sepasang kekasih mewujudkan impian di tengah peliknya dunia. Kritik soal kapitalisme yang diwakili supermarket dan busung lapar pun terselip dalam deretan lagu di album ini. Karena liriknya yang puitis dan kritis menggigit, album itu diganjar sebagai satu dari 20 Album Indonesia Terbaik 2009 versi Rolling Stone Indonesia.
Lagu-lagu yang menarik untuk didengarkan antara lain “Menara”, “Bioskop, Pisau Lipat”, “Dinding Propaganda”, “Nasihat yang Baik”, dan “Noktah pada Kerumunan”.
                                              Ungoran Prasad saat manggung./ Istimewa
3. Sisir Tanah
Mulanya, proyek musik solo asal Bantul yang digawangi Bagus Dwi Danto mulai dikenal pada 2010. Mengambil nama “Sisir Tanah” yang berarti perkakas pertanian pengolah tanah, ia menyanyikan lagu-lagu dari catatan personalnya. Kesempatan merekam dalam album baru terlaksana setelah lembaga kajian musik asal Yogyakarta, LARAS memproduserinya. LARAS sendiri adalah lembaga yang berisikan nama-nama seperti Rizky Sasono (Risky Summerbee and the Honeythief), Leilani Hermiasih (Frau), Michael H. B. Raditya, Irfan R. Darajat (Jalan Pulang), serta Heditia S. Damanik.
Album perdana bertajuk “Woh” yang diproduksi pada awal 2017 itu kebanyakan bercerita tentang problem kemanusiaan versi Bagus. Beberapa lagu yang pantas didengar antara lain “Kita Mungkin”, “Lagu Hidup”, “Lagu Pejalan”, “Orbituari Air Mata”, dan “Konservasi Konflik”.
4. ERK
Sudah bukan cerita baru jika trio pop ini gemar menyentil kesadaran publik soal problematika di sekitar kita. Lagu yang diciptakan dengan kemasan kata cerdas ini tak menjadi objek aji mumpung semata. Namun sukses mengobrak-abrik kesadaran pendengarnya, bahwa dunia sedang tak baik-baik saja. Fenomena tingkah melankolik remaja tak luput dari sindirannya dalam lagu “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja”.
Beberapa lagu lainnya juga berisi kritik yang bertujuan mengajak publik ikut resah. Sebut saja lagu “Balerina”, “Mosi Tidak Percaya”, “Tubuhmu Membiru Tragis”, “Hujan Jangan Marah”, “merah, dan “Biru”.
5. Navicula
Navicula didirikan tahun 1996 di Bali, dengan formasi terkini Robi (vokal, gitar), Dankie (gitar), Made (bass), Gembull (drum). Dilansir dari laman mereka, nama Navicula diambil dari nama sejenis ganggang emas bersel satu, berbentuk seperti kapal kecil (dalam bahasa Latin, Navicula berarti kapal kecil). Band ini mengusung rock sebagai warna dasar musik mereka, berpadu dengan beragam warna etnik, folk, psychedelic, punk, alternatif, funk, dan blues. Liriknya sarat dengan pesan aktivisme dan semangat tentang damai, cinta, dan kebebasan.
Meski sempat kontrak dengan mayor label pada 2004, namun band ini kembali pulang ke jalur indie pada 2007. Lagu-lagu yang menarik didengar antara lain “Di Rimba”, “Mafia Hukum”, “Harimau! Harimau!”, “Refuse to Forget”, dan “Aku Bukan Mesin”.

Komentar

Posting Komentar